Selasa, 27 Oktober 2015

Al-Quran Sebagai Penyembuh

Mengapa (Al-Quran) disebut syifa’ (penyembuh), bukan dawa’ (obat)? Karena kata syifa’ ditujukan untuk kondisi lahiriah dan batiniah, sedangkan dawa’ ditujukan untuk kondisi lahiriah saja. Jadi, makna syifa’ lebih umum (lebih luas) dibandingkan dawa’. Di surat Yunus, Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ
Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. (QS. Yunus: 57)

Indah sekali, Allah sebut al-Quran sebagai,
  1. Mau’idzah (nasehat) dari Rab kita
  2. Syifa’ (penyembuh) bagi penyakit hati
  3. Huda (sumber petunjuk)
  4. Rahmat bagi orang yang beriman.
Ibnu Katsir mengatakan,
“وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ” أي: من الشُبَه والشكوك، وهو إزالة ما فيها من رجس ودَنَس
“Syifa bagi penyakit-penyakit dalam dada” artinya, penyakit syubhat, keraguan. Hatinya dibersihkan dari setiap najis dan kotoran.” (Tafsir Ibnu Katsir, 4/274).

Di ayat lain, Allah berfirman,
قُلْ هُوَ لِلَّذِينَ آَمَنُوا هُدًى وَشِفَاءٌ وَالَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ فِي آَذَانِهِمْ وَقْرٌ
Katakanlah: “Al Quran itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang mukmin. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan. (QS. Fushilat: 44)
Makna dua ayat ini saling melengkapi. Keterangan global di suat Fushilat, didetailkan dengan keterangan di surat Yunus. Sehingga yang dimaksud al-Quran sebagai syifa bagi orang yang beriman, adalah obat bagi segala penyakit hati.
Kita simak keterangan Imam as-Sa’di,
Al-Quran adalah penyembuh bagi semua penyakit hati. Baik berupa penyakit syahwat yang menghalangi manusia untuk taat kepada syariat. Atau penyakit Syubuhat, yang mengotori aqidah dan keyakinan. Karena dalam al-Quran terdapat nasehat, motivasi, peringatan, janji, dan ancaman, yang akan memicu perasaan harap dan sekaligus takut, bagi para hamba.
Jika muncul dalam perasaannya, motivasi untuk berbuat baik, dan rasa takut untuk maksiat, dan itu terus berkembang karena selalu mengkaji makna al-Quran, itu akan membimbing dirinya untuk lebih mendahulukan perintah Allah dari pada bisikan nafsunya. Sehingga dia menjadi hamba yang lebih mencari ridha Allah dari pada nafsu syahwatnya.
Demikian pula berbagai hujjah dan dalil yang Allah sebutkan dengan sangat jelas. Ini akan menghilangkan setiap kerancuan berfikir yang menghalangi kebenaran masuk dalam dirinya dan mengotori aqidahnya. Sehingga hatinya sampai pada puncak derajat keyakinan.
Ketika hati itu sehat, tidak banyak berisi penyakit syahwat dan syubhat, keadaannya akan diikuti oleh anggota badannya. Karena anggota badan akan jadi baik, disebabkan kebaikan hati. Dan menjadi rusak, disebabkan rusaknya hati.
(Tafsir as-Sa’di, hlm. 366)

sumber : konsultasisyariah.com

Jumat, 09 Oktober 2015

Menentramkan

Kisah yang mahsyur, ketika Rasulullah dan sahabat Abu Bakar bersembunyi dalam gua dari kejaran orang-orang yang ingin membunuh Rasul kala itu.
Abu Bakar sungguh khawatir.
Ibarat main petak umpet, ini petak umpet yang taruhannya nyawa kalau ketahuan.

Rasulullah begitu mengerti kekhawatiran Abu Bakar, lalu mengatakan sebuah kalimat ajaib:
"Laa tahzan, innallaha ma'ana"
(janganlah bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita)
Sungguh kalimat yang menenangkan hati.

Senja Jingga


Hamparan sawah hijau yang baru ditanami itu menyejukkan mata. Para petani bersiap untuk kembali pulang. Langit begitu damai berpadu mentari yang perlahan melangkah pergi menuju ufuk barat. Burung-burung terbang, siap kembali ke dalam sangkar. Di sebuah gubuk kecil, di tepi jalan...

Senja   > Kau masih ingat masa kecil kita? Menyusuri pematang sawah. Mencari kecebong dan berenang di kubangan air jernih dengan pancaran yang deras.

Jingga > Ya sederas air terjun yang menyegarkan. Padahal itu bersumber dari dalam tanah yang dihasilkan mesin berbahan bakar solar.

Senja   > Kau sangat betah bermain main dengan air itu. Masih ingat apa yang bisa membuatmu berhenti bermain?

Jingga > Tentu saja, yaitu saat aku asyik berenang dan tiba-tiba ada kepiting bersarang di telapak tanganku. Aku  ketakutan dan bapak akan membawa kita pulang.

Senja   > Hahaha...dan sekarang kita sudah dewasa. Melalui banyak asam garam dalam hidup.

Jingga > Hm...

Senja   > Hidup ini penuh kejutan dari-Nya. Kejutan yang membuat kita terpesona dengan skenario-Nya.  Seperti aku dan pangeranku. Dipertemukan dan disatukan setelah sekian tahun tak berjumpa. Siapa yang mengira? Mungkin dulu kami sering berada di tempat yang sama. Melewati lorong-lorong yang sama. Mempelajari hal-hal yang sama. Namun dia hanya diam memendam. Menunggu waktu yang tepat untuk mengutarakan rasa yang ia simpan.

Jingga > Seperti itukah? Apakah kau menyadari bahwa dia dalam diam memendam? Tapi kisah seperti itu tidak selalu berakhir dengan dipersatukan kan? Karna bisa jadi waktu yang ditunggu tidaklah tepat baginya, lebih tepatnya tidak berjodoh. Dan akhirnyaa...

Senja   > Tidak juga. Kami dipisahkan oleh jarak dan waktu 5 tahun lamanya. Yang namanya memperjuangkan memang harus diiringi dengan kesabaran dan keikhlasan. Sabar dan ikhlas untuk melepaskan jika ternyata yang diperjuangkan tidak dapat ia gapai. 

Jingga > Ya jika dia sadar bahwa yang diperjuangkan adalah bukan sebuah sekedar. Hingga ia mau tak mau harus rela melepaskan nya bersama orang lain yang juga sama-sama memperjuangkan.

Senja   > Benar. Bahkan kau tau banyak tentang kisahku. Tentang perasaan terpendam pada seniorku SMP yang dulu kupendam dalam-dalam sampai 9 tahun. Memang ada harapan aku berjodoh dengannya, walaupun tak berharap banyak. Padahal aku tak tau apakah dia mempunyai perasaan yang sama denganku. Atau bahkan tak mengenalku.

Jingga > Aku mengerti tentang perasaanmu meskipun kau menganggapku masih kecil saat dulu kau menceritakannya. Namun aku tak bisa berbuat apa-apa untuk membantumu. 

Senja   > Banyak kisah perjalanan berbagai warna yang kulalui. Mungkin juga yang terjadi padanya. Namun namanya masih bertahta. Hingga Allah mengirimkan pangeran terbaik yang ternyata bukan dia. Aku menikah lebih dulu dengan pangeranku dan dia masih bertahan dengan kesendiriannya. Namun sekarang aku sangat bahagia dengan bahagiaku. Bersama pangeran terbaik dan dua malaikat kecilku. Cukuplah diambil hikmah dari masa lalu yang bukan untuk disesali.

Jingga > (tersenyum)

Senja   > Lalu bagaimana dengan perjalananmu? Pasti penuh warna pula. Dari sekian banyak yang datang kau biarkan mereka berlalu. 

Jingga > Tak usah khawatir, akan ada orang yang tepat di waktu yang tepat. Bukankah Allah sebaik-baik perencana? Mempersilahkan mereka berlalu bukan berarti mereka tidak baik dan merasa aku lebih baik darinya. Tapi...

Senja   > Karna tidak ada kecenderungan?

Jingga > Bisa jadi. Yang namanya kecenderungan adalah masalah hati yang terkadang tidak membutuhkan penjelasan panjang lebar.

Senja   > Atau kau sudah terlanjur mencenderungkan hatimu pada seseorang?

Jingga > Entahlah ...mungkin. Eh...semoga saja tidak. Bukankah kita harus senantiasa melibatkan-Nya dalam mengambil keputusan. Itupun terkadang masih menyisakan rasa khawatir apakah itu keputusan yang tepat.

Senja   > Iya..ujian keragu-raguan itu sering datang entah saat menolak ataupun menerima. Bahkan ketika sudah menerima dan menunggu hari H. Keragu-raguan itu masih menghampiri. Maka harus senantiasa memohon petunjuk dan lebih mendekat pada-Nya.

Jingga > Hm...

Senja   > Jadi apakah ada yang sedang bertahta di hatimu? Bahkan kau lebih introvert soal perasaanmu. Bahkan padaku. Jika aku lelaki memang lebih baik diam soal perasaan. Tak perlu diceritakan siapa yang kusuka bahkan kepada teman dekatku yang laki-laki yang masih sama-sama single. Karna bisa jadi teman kita ternyata memiliki perasaan yang sama dengan kita. Haha.Tapi disini aku sudah berlabuh ke orang pilihan. Masih tetap tak mau cerita?

Jingga > Haha...benar sekali...itu juga berlaku untuk perempuan. Bolehlah memendam cinta. Harta karun saja dipendam. Sedangkan dia lebih berharga dari harta karun. Haha ngomong apa aku ini.

Senja   > Jadi siapa dia?

Jingga > Mungkin mirip dengan kisahmu dengan senior SMP. Belum tentu dia memiliki perasaan yang sama. Terkadang dia menulis kata-kata indah yang entah untuk siapa.

Senja   > Mungkin untukmu

Jingga > Haha...bisa jadi tidak. Jika muncul perasaan “sepertinya iya” segera kutepis. Aku tak mau terlalu PD. Karna aku tak mau berharap banyak dan terlalu dalam pada orang yang aku belum tahu apakah memang dia yang ditakdirkan untukku. Sudah-sudah, jodoh tak akan tertukar kan. Jangan terlalu khawatir. Semoga dipertemukan dalam kebaikan dengan pilihan-Nya.

Senja   > Hm...Jika memang iya mungkin sekarang dia sedang berjuang hingga waktu yang tepat itu datang.

Jingga > Jika tidak mungkin kisahku mirip dengan kisahmu dan senior SMP mu (tersenyum) . Tapi tidak sedalam dan selama kisahmu yang memendam. Hahaha. 

Senja   > Tak usah menggoda masa laluku. Yang penting sekarang aku bahagia atas kehendak-Nya (tersenyum)

Jingga > Hehe...Jadi apakah benar kata sesepuh bahwa perempuan itu dapat menikah dengan orang yang tidak atau belum ia cintai, tetapi laki-laki tidak bisa ?

Senja   > Entahlaah, teori itu bisa saja benar. Tapi tidak 100%. 

Jingga > Ayo kita pulang.

Senja   > (Mengangguk) 

Langit masih damai dengan jingga yang benderang di sekeliling mentari senja yang mulai meredup bersiap menyambut petang. Kedua insan itu mulai mengayun langkah pulang.

Sederhana

Cinta itu sederhana.
Aku suka kau, kau suka aku. Kita berdua lalu menikah. Tanpa banyak gombal. Tanpa banyak obral janji.
Cinta itu sederhana.
Asalkan kau setia, itu sudah cukup. Setia pada Allah dan Rasul-Nya. Karena kalau kau setia pada-Nya, kau akan memegang teguh perjanjian yang kokoh itu.
Cinta itu sederhana.
Cinta itu simpel, jika jatuh cinta, menikahlah.
Jika belum mampu, bersabarlah
#Tulisan jaman dulu.
Iya cinta memang sederhana. Tapi dalam perjalanan ada rumitnya juga :D

Rabu, 26 Agustus 2015

Untuk Pengemban Amanah Titipan Allah

Alangkah banyak orangtua yang menggunakan kekuatannya untuk membuat anak tunduk. Sementara, mereka lupa bahwa badan yang kekar ini akan lemah juga, suara yang keras ini akan sayup-sayup juga, dan mata yang selalu awas ini akan kehilangan kekuatannya juga; baik karena anak-anak yang semakin jauh ruang geraknya atau karena mata kita telah dimakan usia.
Mengingat itu semua, maka siapkanlah anak-anak itu untuk hidup di negeri akhirat. Apa pun yang engkau kerjakan jadikan ia sebagai jalan untuk mempersiapkan mereka menghadap Tuhannya. Kalau di saat dinginnya malam menusuk tulang mereka merepotkan kita, maka lapangkanlah hatimu untuk ridha terhadap kerepotan itu. Semoga Allah cukupkan kerepotan sampai di situ. Tidak berpanjang-panjang hingga akhirat. Sebab di hari Kiamat setiap kerepotan tak dapat diselesaikan, kecuali apabila kita mendapat syafaat.
Kalau engkau bangun di tengah malam untuk membuatkan susu untuk anakmu, aduklah ia dengan sungguh-sungguh sambil mengharap agar setiap tetes yang masuk kerongkongannya akan menyuburkan setiap benih kebaikan dan menyingkirkan setiap bisikan yang buruk. Kalau engkau menyuapkan makanan untuk anak-anakmu, maka mohonlah kepada Allah agar setiap makanan yang mengalirkan darah di tubuh akan mengokohkan tulang-tulang mereka, membentuk daging mereka, dan membangkitkan jiwa mereka sebagai penolong-penolong agama Allah. Semoga dengan itu, setiap suapan yang masuk ke mulut mereka akan membangkitkan semangat dan meninggikan martabat. Mereka bersemangat untuk senantiasa menuntut ilmu, menunaikan amanah, dan meninggikan nama Tuhannya, Allah ’Azza wa Jalla.
Kalau setiap kali ada yang kauinginkan dari dunia ini, perdengarkanlah kepada mereka pengharapanmu kepada Allah, sehingga mereka akan dapat merasakan sepenuh jiwa bahwa hanya kepada Allah kita meminta. Sesungguhnya anak-anak yang kuat jiwanya adalah mereka yang yakin kepada janji Tuhannya. Mereka tidak mengiba pada manusia, dan tidak takjub pada nama-nama orang yang disebut dengan penuh pujian. Hari ini, anak-anak kita sedang dilemahkan oleh media. Mereka diajak menakjubi manusia. Padahal manusia yang ditakjubi itu tak kuasa untuk membuat diri mereka sendiri bersinar. Padahal untuk bisa disebut idola, mereka membutuhkan dukungan suara-suara kita.
Ajarkan pada mereka keinginan untuk berbuat bagi agama Allah. Bangkitkan pada diri mereka tujuan hidup yang sangat kuat. Jika dua perkara ini ada pada diri mereka, insya Allah mereka akan tumbuh sebagai orang-orang penuh semangat.

oleh: Ustadz Fauzil Adzim

Minggu, 28 Juni 2015

Karena yang mencintaimu bukan hanya aku dan yang memperjuangkanku bukan hanya kamu

Mencintai karena Allah adalah soal ikhlas. Ikhlas berjuang untuk bersama atau ikhlas melepaskan untuk berpisah. Karena Allah yang menggenggam hati manusia. Maka mohonkanlah agar diteguhkan hatimu pada jalan yang diridhoi-Nya :) Dia juga yang memberikan kekuatan tekad untuk berjuang atau memberikan senyum untuk melepaskan. Mencintailah karena Allah dan semua pun akan lebih indah. 

Karena mereka mencinTAimu maka mereka memilih untuk memperjuangkanmu^^

Kerjakan apa yang kamu cintai karena Allah, dan cintai apa yang kamu kerjakan karena Allah dengan fokus pada tujuan utama-Menggapai Ridho-Nya ^^

Mereka banyak yang memperjuangkanmu untuk mewujudkan kebahagiaan orang2 yang mencintai mereka, yang menyematkan asa di pundak mereka menuju amanah berikutnya. Orang tua, keluarga, dan banyak umat membutuhkan kontribusi mereka.

Selamat memperjuangkan cinTA ^^ Tetap fokus pada tujuan utama !!! Masih banyak yang harus kau perjuangkan selain itu, dengan Tetap fokus pada tujuan utama !!! 

Hanya bersama Allah @SPR GXX 
Sabtu, 12 Ramadhan 1436 H, 
Semoga Ramadhanmu barakah dan meningkatkan kualitas taqwa ^^

#Nb : Judul dan isi memang gak nyambung :D


Jumat, 19 Juni 2015

SAHUR

Banyak kaum muslimin yang kurang tepat dalam pemahaman mengenai waktu makan sahur dan juga sudah mengendap kuat pemahaman yang keliru yaitu tentang waktu imsak , di mana ketika waktu imsak sudah tiba maka orang yang berpuasa Manahan diri dari makan dan minum sebagai bentuk kehati-hatian. Yang benar, justru sebaliknya, yaitu waktu-waktu ketika imsak adalah waktu yang terbaik untuk makan sahur. Berikut pembahasannya
Waktu makan sahur
Waktu makan sahur adalah adzan pertama (munculnya fajar kadzib, belum masuk waktu shalat subuh) sampai adzan kedua (munculnya fajar shadiq, sudah masuk waktu shalat subuh). Di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, adzan pertama dikumandangkan oleh Bilal bin Rabah sedangkan adzan kedua dikumandangkan oleh Ibnu Ummi Maktum.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ بِلاَلاً يُؤَذِّنُ بِلَيْلٍ فَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يُؤَذِّنَ ابْنُ أُمِّ مَكْتُومٍ
“Bilal biasa mengumandangkan adzan di malam hari. Makan dan minumlah sampai kalian mendengar adzan Ibnu Ummi Maktum.”[1]
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
الفَجْرُ فَجْرَانِ ، فَجْرٌ يُحْرَمُ الطَّعَامُ وَتَحِلُّ فِيْهِ الصَّلاَةُ ، وَفَجْرٌ تُحْرَمُ فِيْهِ الصَّلاَةُ (أَيْ صَلاَةُ الصُّبْحِ) وَيَحِلُّ فِيْهِ الطَّعَامُ
“Fajar ada dua macam:
(Pertama) fajar diharamkan untuk makan dan dihalalkan untuk shalat (yaitu fajar shadiq, fajar masuknya waktu shalat shubuh)
dan (Kedua) fajar yang diharamkan untuk shalat (yaitu shalat shubuh) dan dihalalkan untuk makan (yaitu fajar kadzib, fajar yang muncul sebelum fajar shadiq).”[2]
Apa itu fajar kadzib dan fajar shadiq?
Dalam kitab sifat shaum Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dijelaskan,
و اعلم – أخي المسلم – أن: الفجر الكاذب هو البياض المستطيل الساطع المصعد كذنب السرحان, و الفجر الصادق هو الأحمر المسبطير المعترض على رؤوس الشعاب و الجبال, المنتشر في الطرق و السكك و البيوت, و هذا هو الذي تتعلق به أحكام الصيام و الصلاة
“Ketahuilah wahai saudaraku muslim, bahwa fajar (ada dua):
[Pertama] fajar kadzib yaitu warna putih yang memancar panjang menjulang seperti ekor binatang gembalaan,
[Kedua] fajar shadiq yaitu warna memerah yang bersinar dan tampak di atas puncak bukit dan gunung-gunung, tersebar di jalanan dan jalan raya serta atap-atap rumah. Fajar inilah yang berkaitan dengan hukum-hukum puasa dan shalat.”[3]
Dari Samurah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لا يغرنكم أذان بلال و لا هذا ال بياض لعمود الصبح حتى يستطير
“janganlah kalian tertipu/salah kira dengan adzannya Bilal (adzan pertama, pent) dan jangan pula tertipu/salah kira dengan warna putih (fajar kadzib, pent) yang memancar ke atas sampai melintang.”[4]
Dari Thalq bin Ali, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
كلوا و اشربوا و لا يغرنكم الساطع المصعد, و كلوا و اشربوا حتى يععترض لكم الأحمر
“makan dan minumlah, jangan kalian tertipu/salah kira dengan fajar yang memancar ke atas (fajar kadzib) , makan dan minumlah sampai warna merah membentang (fajar shadiq).”[5]
Tentang Waktu Imsak
Waktu imsak (seperti yang dikenal sekarang) yaitu menahan diri dari makan dan minum sekitar 15 menit sebelum adzan dengan maksud berhati-hati, maka hal ini tidak ada ajarannya dalam Islam bahkan bertentangan dengan ajaran Islam. Akan tetapi kebiasaan ini tersebar luas di sebagian besar kaum muslimin, terpampang di jadwal waktu puasa dan shalat, diumumkan di radio dan televisi bahkan diumumkan di masjid-masjid melalui pengeras suara.
Anggapan yang salah ketika tiba waktu imsak adalah tidak boleh makan dan minum lagi. Yang benar adalah menahan diri makan dan minum ketika tiba waktu shalat subuh atau terbit fajar shadiq.
Allah Ta’ala berfirman,
وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ
“Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.” (Al Baqarah: 187)
Makna benang putih dan benang hitam adalah kiasan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إنما ذلك سواد الليل و بياض النهار
“Maksud ayat tersebut adalah hitamnya malam dan putihnya siang.”[6]
Waktu (yang katanya) imsak adalah justru waktu terbaik untuk makan sahur
Karena termasuk sunnah adalah mengakhirkan makan sahur, yaitu makan sahur pada waktu berdekatan dengan shalat subuh (fajar shadiq)
‘Amr bin Maimun Al-Audi berkata,
كَانَ أَصْحَابُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ أَسْرَعَ النَّاسِ إِفْطَارًا وَأَبْطَأَهُمْ سَحُوْرًا
Dahulu para sahabat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang-orang yang paling segera berbuka dan paling lambat sahuur.”[7]
Dari Zaid bin Tsabit radhiallahu ‘anhu, dia berkata,
عَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ – رضى الله عنه – قَالَ: تَسَحَّرْنَا مَعَ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – ثُمَّ قَامَ إِلَى الصَّلاَةِ . قُلْتُ كَمْ كَانَ بَيْنَ الأَذَانِ وَالسَّحُورِ قَالَ قَدْرُ خَمْسِينَ آيَةً .
“Kami makan sahur bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau berdiri untuk melakukan shalat”.
(Anas bertanya kepada Zaid bin Tsabit): “Berapa lama jarak antara adzan dan sahur?” Zaid menjawab, “Kira-kira (membaca) 50 ayat (Al-Qur’an)”[8]
Begitu juga ketika sedang makan dan minum kemudian terdengar adzan maka ia hendaknya melanjutkan makan dan minumnya.
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِذَا سَمِعَ أَحَدُكُمُ النِّدَاءَ وَالإِنَاءُ عَلَى يَدِهِ فَلاَ يَضَعْهُ حَتَّى يَقْضِىَ حَاجَتَهُ مِنْهُ ».
Dari Abu Hurairah, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila salah seorang diantara kalian mendengar adzan, sedangkan bejana (makanan) masih ada di tangannya, maka janganlah ia meletakkannya hingga ia menyelesaikan hajatnya (sahurnya).”[9]
Bahkan jika tidak mendengar adzan kemudian tiba-tiba mendengar iqamat shalat subuh maka boleh melanjutkan hajatnya.
عَنْ أَبِي أُمَامَةَ قَالَ: أُقِيْمَتِ الصَّلَاةُ وَالْإِنَاءُ فِي يَدِ عُمَرَ، قَالَ: أَشْرَبُهَا يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: نَعَمْ!، فَشَرِبَهَا (بطريقين وهو صحيح)
Dari Abi Umamah, dia berkata: “Shalat (subuh) sudah diiqomati, wadah minuman masih berada di tangan Umar, dia bertanya: “Apakah aku boleh meminumnya wahai Rasulullah?” Nabi  menjawab: “Ya”. Maka Umar meminumnya”.[10]
Dan bid’ah imsak ternyata sudah ada juga di zaman Ibnu hajar Al-asqalani rahimahullah, beliau berkata,
من البدع المنكرة ما أحدث في هذا الزمان من إيقاع الأذان الثاني قبل الفجر بنحو ثلث ساعة في رمضان واطفاء المصابيح التي جعلت علامة لتحريم الأكل والشرب على من يريد الصيام زعما ممن أحدثه أنه للاحتياط في العبادة ولا يعلم بذلك الا آحاد الناس وقد جرهم ذلك إلى أن صاروا لا يؤذنون الا بعد الغروب بدرجة لتمكين الوقت زعموا فاخروا الفطر وعجلوا السحور وخالفوا السنة فلذلك قل عنهم الخير وكثير فيهم الشر والله المستعان
“Termasuk bid’ah yang munkar adalah apa yang terjadi di zaman ini (zaman Ibnu Hajar) yaitu adanya pengumandangan adzan kedua tiga perempat jam sebelum waktu fajar bulan Ramadhan. Serta memadam lampu-lampu sebagai pertanda telah datangnya waktu haram untuk makan dan minum bagi yang berpuasa keesokan harinya. Orang yang berbuat seperti ini beranggapan bahwa hal itu dimaksudkan untuk berhati-hati dalam beribadah, sebab yang mengetahui persis batas akhir sahur hanya segelintir manusia. Sikap hati-hati yang demikian, juga menyebabkan mereka tidak diijinkan untuk berbuka puasa kecuali setelah matahari terbenam beberapa saat agar lebih memastikan waktu. Akibatnya mereka suka mengakhirkan waktu berbuka puasa, suka menyegerakan waktu sahur, dan suka menyelisihi Sunnah. Oleh sebab itulah mereka sedikit mendapatkan kebaikan, tetapi banyak mendapatkan keburukan.”[11]. Alhamdulillahi rabbil ‘alamiin.[muslimafiyah]
[1] HR. Bukhari no. 623 dan Muslim no. 1092
[2] HR. Al Baihaqi dalam Sunan Al Kubro no. 8024 dan Ad Daruquthni” no. 2154, dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dan Al Hakim sebagaimana terdapat dalam Bulughul Marom)
[3] Sifat shaum Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hal. 37, Dar Ibnu Hazm, Beirut, cet. VI, 1417 H,
[4] HR. Muslim no. 1094
[5] HR. Tirmidzi 3/76, Abu Dawud 2/304, Ahmad 4/23, Ibnu Khuzaimah 3/211, dishahihkan oleh penulis kitab sifat shaum
[6] HR. Bukhari 4/113 dan Muslim no.1090
[7] HR. Abdurrozaq di dalam Al-Mushonnaf 4/226, no. 7591; dishahihkan oleh Al-Hafizh di dalam Al-Fath
[8] HR. Bukhari, no. 1921 dan Muslim, no. 1097
[9] HR. Abu Dawud, no.2352 sanadnya hasan; juga riwayat Ahmad dan Al-Hakim dengan sanad yang shahih. Lihat Sifat Shoum
[10] Tafsir Thabari 3/527, no. 3017, dengan dua sanad, riwayat ini shahih
[11] Fathul-Baariy 4/199, Darul Ma’rifah, Beirut, 1397 H, Syamilah

Disunting dari catatan A.Nasution