Tampilkan postingan dengan label Iseng. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Iseng. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 05 November 2016

PELAMINAN

Rangkaian bunga warna-warni nan indah dengan latar berwarna putih menjadi saksi dua jiwa yang telah halal untuk merajut cinta. Dua tahun semenjak masa kelulusan kita bukankah itu waktu yang lama? Terpisah oleh jarak dan waktu yang bahkan tak membuat kita sempat untuk sekedar bertegur sapa. Entah tidak menyempatkan atau memang sama-sama enggan untuk memulai.

Hari ini kita bertemu di tempat yang bernama pelaminan,  masih membuatku berasa dalam mimpi bahwa kita sama-sama merasakan bahagia. Senyum nan indah pun merekah di wajah teman-teman kita. Kegembiraan menyaksikan dua insan yang  menjadi ratu dan raja dalam singgasana  berpadu dengan kebahagiaan pertemuan dengan teman-teman lainnya. Memang bisa dibilang bahwa acara pernikahan dapat menjadi momen reunian. Bertemu, bertegur sapa, dan saling mengurai cerita bisa melepas rindu bagi raga-raga yang telah lama tak bersua.

Sampai sekarang kau masih menyukai dunia astronomi. Katamu dunia astronomi itu menakjubkan, bisa membawamu ke alam yang lebih menguatkan kekaguman terhadap kekuasaan Tuhan. Bahkan sampai sekarang kau menempuh S2 pun masih menggeluti  bidang itu yang mengantarkanmu pada prestasi-prestasi gemilang dari dulu hingga sekarang. Jadi bisa dibilang bahwa kita sama-sama mengagumi langit dan segala keindahannya yang menawan. Hanya saja kagumku tidak sampai sepertimu yang bisa menekuni bidang astronomi dengan segala analisis dan rumus-rumus asing yang bagiku cukup memusingkan.

Masih ingat saat hari kelulusan itu, banyak sekali rangkaian bunga indah dan berjibun kado yang kau terima dari para penggemarmu sampai kedua tanganmu pun tak mampu menampungnya. Bak artis yang sedang jumpa fans, para pengagum mu itu khususnya adik-adik junior mengantri untuk berfoto denganmu. Dan kau masih dengan sikap berwibawa, tenang, dan rendah hati menanggapinya. Hingga salah satu dari teman kita sempat menggodamu  “Tuh Al, tinggal dipilih satu untuk dijadikan pacar, eh istri ding”, godanya sambil menepuk pundakmu. Dan kau hanya menanggapinya dengan senyum berwibawa sambil menggeleng-gelengkan kepala tanda heran dengan tingkah temanmu. Hingga salah satu teman yang lain nyeletuk ”Eh ya gak bisa ambil satu, disini gak ada mahasiswa kedokteran. Dia kan katanya ingin punya istri dokter”, katanya dengan percaya diri. Kali ini kau tak memasang senyum seperti sebelumnya dan langsung menoleh ke arahku. Tentu saja itu kau lakukan bukan tanpa alasan, karna kau sadar bahwa aku secara refleks kaget mendengar kata “dokter” dan kemudian menoleh ke arahmu yang berjarak 2 meter di sampingmu. Aku pun segera mengalihkan muka kembali ke arah kerumunan teman-temanku yang sedang asyik saling mengucapkan selamat atas perjuangan hingga ijazah berhasil digenggam. Dan semenjak itu kita pun berpisah mengarungi medan dengan dunia masing-masing.


Hari ini istimewa. Kita sama-sama bahagia dan berfoto bersama teman-teman di pelaminan. Dan semenjak itu pula kita berpisah kembali. Mungkin saja di lain waktu kita akan dipertemukan lagi dalam nuansa berbunga-bunga di pelaminan. Entah dengan bergandengan tangan, atau sekedar menghadiri undangan pernikahan teman.

#Cerpen
#Fiktif

Jumat, 09 Oktober 2015

Sederhana

Cinta itu sederhana.
Aku suka kau, kau suka aku. Kita berdua lalu menikah. Tanpa banyak gombal. Tanpa banyak obral janji.
Cinta itu sederhana.
Asalkan kau setia, itu sudah cukup. Setia pada Allah dan Rasul-Nya. Karena kalau kau setia pada-Nya, kau akan memegang teguh perjanjian yang kokoh itu.
Cinta itu sederhana.
Cinta itu simpel, jika jatuh cinta, menikahlah.
Jika belum mampu, bersabarlah
#Tulisan jaman dulu.
Iya cinta memang sederhana. Tapi dalam perjalanan ada rumitnya juga :D

Minggu, 28 Juni 2015

Karena yang mencintaimu bukan hanya aku dan yang memperjuangkanku bukan hanya kamu

Mencintai karena Allah adalah soal ikhlas. Ikhlas berjuang untuk bersama atau ikhlas melepaskan untuk berpisah. Karena Allah yang menggenggam hati manusia. Maka mohonkanlah agar diteguhkan hatimu pada jalan yang diridhoi-Nya :) Dia juga yang memberikan kekuatan tekad untuk berjuang atau memberikan senyum untuk melepaskan. Mencintailah karena Allah dan semua pun akan lebih indah. 

Karena mereka mencinTAimu maka mereka memilih untuk memperjuangkanmu^^

Kerjakan apa yang kamu cintai karena Allah, dan cintai apa yang kamu kerjakan karena Allah dengan fokus pada tujuan utama-Menggapai Ridho-Nya ^^

Mereka banyak yang memperjuangkanmu untuk mewujudkan kebahagiaan orang2 yang mencintai mereka, yang menyematkan asa di pundak mereka menuju amanah berikutnya. Orang tua, keluarga, dan banyak umat membutuhkan kontribusi mereka.

Selamat memperjuangkan cinTA ^^ Tetap fokus pada tujuan utama !!! Masih banyak yang harus kau perjuangkan selain itu, dengan Tetap fokus pada tujuan utama !!! 

Hanya bersama Allah @SPR GXX 
Sabtu, 12 Ramadhan 1436 H, 
Semoga Ramadhanmu barakah dan meningkatkan kualitas taqwa ^^

#Nb : Judul dan isi memang gak nyambung :D


Jumat, 22 Mei 2015

Kawan

Aku suka bercengkerama dengan alam bebas
Dan yang paling aku suka adalah pantai
Pesona hamparan air tanpa batas sejauh mata memandang
Biru berpadu bening yang menyejukkan
Sungguh indah bukan?
Aku suka menuliskan beberapa kata pada pasir lembut di tepinya
Entah meskipun tak begitu penting namun cukup menghibur
Berharap suatu saat aku dapat menuliskan namamu, lebih tepatnya nama kita
Meski akhirnya ombak akan menyapunya
Namun kebahagiaan tak akan sirna
Selama kita saling mencintai karena-Nya
dan berjalan pada lintasan yang diridhoi-nya
Mungkin sesekali kita perlu mendaki gunung
Agar kita merasakan perjuangan bersama mencapai puncak
Bukankah akan lebih indah jika kita mendaki menuju puncak bersama
daripada dipertemukan saat sama2 sudah di puncak?
Karna indah dan manisnya hidup itu tak akan terasa tanpa perjuangan
Dan perjuangan akan lebih indah dengan hadirnya kawan.





                                                      



Selasa, 11 Februari 2014

^^

Adalah satu hal yang sama antara aku dan dia. Saat kami harus menemui takdir yang sebenarnya tidak kami ingini, biasanya dalam situasi begitu, dakwah yg menghibur kami.


Inilah hidup. Saat mimpimu harus berubah karena takdir Allah, ikhlaslah. Mmm..at least nikmatilah prosesnya menuju ikhlas. Toh masuk surga itu banyak jalannya. Jadi jangan terlampau sedih saat salah satu dari mimpi2mu hilang. Seperti cerita yg lalu2, biasanya Allah akan datangkan penghibur hati yg menentramkanmu. dan biasanya itu adalah tentang dakwah. Sungguh, nikmat Allah itu luas :’)
#miss you my sist :)

Minggu, 09 Februari 2014

Syuro' Bergembira :D


Syuro' TIM PKM-M didanai dari squad KAMMI

Sedikit ringkasan taujih penutup sebagai penambah semangat pagi ini : 

Dina : Meluruskan Niat, bukan hanya untuk PIMNAS, tapi untuk membantu serta memberdayakan masyarakat dan diselipkan nilai-nilai islam

Afida : setiap manusia akan memperoleh sesuai apa yg diusahakan ,seperti dalam QS.An Najm : 39

Frendi : Tetap semangat, berusaha, berdoa, dan fokus

Ita : Bismillah, kami adalah para pejuang PKM-M Bunaken yang tangguh dan bertakwa ^^






Senin, 03 Februari 2014

Masa Lalu


Weii ternyata menemukan seperti ini?? Pengurus inti OSIS MASKOD Masa bakti 2006-2007. Baca tulisannya aja bikin ketawa. Ya inilah masa lalu, banyak terukir sejarah. Diwarnai oleh kisah-kisah yang seru, unik, aneh, lucu, menyebalkan maupun menyenangkan. Insyaallah sudah berbeba , berhijrah dari jaman kealayan menuju jaman yang lebih oke ^^ Baca : -Agung-Fida-Lutfi-Putri-Erma-Izza-

Sabtu, 01 Februari 2014

Dua Hati Menyatu


Bulan malam ini cukup terang. Ditemani kerlap-kerlip bintang yang menambah keelokan malam. Kedua anak manusia itu sedang asyik menatap langit indah yang membersamai mereka bersantai di teras rumah.

“Jumlah huruf nama lengkap kita sama. Huruf awal dan akhir nama lengkap kita pun sama" Celetuk zalfa, menoleh ke arah wajah yang teduh disampingnya . Yang ditatap hanya tersenyum tanpa menoleh sedikitpun, wajahnya masih ke arah langit.

“Siapa yang tau kalau kita memiliki perasaan yang sama...sebelumnya” sambung Zalfa sambil menolehkan wajahnya kembali ke arah langit, matanya melirik terhadap sosok yang tersenyum disampingnya.

“ Memangnya seperti apa perasaanmu sebelumnya?” Tanya fahmi dengan sok penasaran, sambil menoleh ke Zalfa. Sekarang ganti zalfa yang membalas, wajahnya tetap menghadap langit,seakan kilau sinar makhluk-makhluk langit itu mengalihkan perhatiannya.

“Mungkinkah seperti kisahnya Fathimah Az Zahra dan Ali bin Abi Thalib?” Fahmi meneruskan pertanyaannya.

“Entahlah” Jawab Zalfa sambil tertawa kecil. Laki-laki itu hanya geleng-geleng kepala sambil tersenyum.

“Kau tahu, ketika aku menikah denganmu...” Fahmi memulai pembicaraan lain yang kelihatan lebih serius.

 “Kenapa tak dilanjutkan?” Tanya Zalfa.

“Kenapa? Penasaran? Mau tahu aja apa mau gorengan yang lain?” Canda Fahmi.

“Itu tidak lucu” wanita berjilbab orange disampingnya memasang wajah jutek. Yang dijuteki merasa puas, merasa berhasil membuat orang yang dicintai penasaran.

“Saat aku memutuskan untuk menikah. Niatku memang menikah, Fa. Bukan menikah dengan siapa. Memang jika aku sudah merasa siap kaulah gadis pertama yang ingin aku lamar, namun jika seandainya saat itu kita belum berjodoh atau mungkin kau tolak lamaranku, insyaallah aku akan tetap ikhtiar untuk menikah dengan orang yang Allah pilihkan. Karna niat utamaku memang menikah, bukan menikah dengan siapa” jelas Fahmi dengan masih tetap memandang bulan. Spontan kedua wajah itu akhirnya saling menatap. Mata mereka bertemu dengan tatapan wajah serius. Kemudian tersenyum bersama. Zalfa masih tersenyum namun mengalihkan matanya ke bawah, pada rumput hijau di depan mereka, masih terlihat basah karna hujan tadi sore. Laki-laki di sampingnya belum mengalihkan tatapan, sepertinya ia menemukan wajah yang menawan dan menemukan sinar  mata yang lebih indah daripada wajah bulan dan kilau sinar bintang yang telah mereka pandang dari tadi.

“Hey kenapa kau tidak membacakan puisimu yang berjudul Bulan dan Bintang saja di saat seperti ini” Fahmi mengungkapkan ide anehnya. Zalfa tertawa kecil.

“Kenapa tidak kau saja yang menyanyikan lagunya Maher Zain “Open your eyes” itu lho...” sahut Zalfa. “Hey sebentar apa maksudmu puisiku yang berjudul Bulan dan Bintang?” sambung Zalfa.

“Kau lupa dengan puisi yang kau buat sekitar tahu 2004 saat masih SD?” Fahmi balik bertanya.

“Itu...kan...Oh yaa aku pernah membuatnya ya?” wajahnya mencoba mengingat-ingat. “Tapi...kenapa kau bisa tahu?” sambung Zalfa.

“Itu puisi ada di buku kecil warna pink bersampul barbie. Isinya tentang catatan harianmu yang aneh dan juga puisi-puisi aneh yang kau buat” , Fahmi tertawa kecil.

 “Apa?? Aneh?? Bagaimana kau bisa membaca buku itu?” wajahnya menatap Fahmi, seakan penuh teka-teki.

“Aku tak sengaja menemukannya di di laci kamarmu,,,maksudku kamar kita” . Wanita disampingnya berlagak cuek.  

“Sudahlah jangan cemberut begitu, meskipun aneh tapi keren kok” Sambung Fahmi sambil memamerkan dua jempol tangannya dihadapan istrinya. Zalfa mencoba tersenyum meski terlihat terpaksa. Fahmi meraih tangan wanita disampingnya “Akan kupegang agar kau tak terbang terlalu tinggi atas apa yang barusan aku katakan tadi” canda Fahmi.

“Kalau aku terbang tinggi, kan bisa kuambilkan bintang itu untukmu” Zalfa merayu.

“Tidak perlu, kau sudah cukup menjadi bintang di hatiku” Ucap Fahmi sambil melirik Zalfa.

Zalfa tersenyum menatap heran suaminya. Ternyata laki-laki itu lebih pandai menggombal ketimbang dirinya.

“Bagaimana kalau kita muroja’ah surat Maryam saja” usul Zalfa.

“Kau hafal?”

“Tentu saja, aku memintamu untuk menghafalkannya, masak aku sendiri tidak hafal?”

“Hm...Oke”

Fahmi  menunduk dan mulai menghafal.  Zalfa mendengarkan dengan seksama lantunan indah tilawah itu.

Wadzkur fil kitaabi ibrohiim. Innahu kaana…” sesaat dia menatap mata Zalfa, dan berhenti.

Shiddiiqon nabiyya.” Zalfa melanjutkan ayat itu. 

Beberapa menit kemudian mereka menyelesaikan muro’jaah ayat-ayat illahi tersebut. Ayat-ayat yang membawa ketentraman di hati mereka.

“Alhamdulillah, ye, ye, ye! Aku hafal!”  semacam anak SD dapat rangking, Zalfa kegirangan berseru sambil  tepuk tangan sendiri. Untuk dirinya sendiri. Fahmi tersenyum . Dia sadar, inilah Zalfa, yang selama ini dikenal selalu riang, meski tetap santun dan anggun.

“Kamu mencintaiku?” pertanyaan yang tiba-tiba terucap cukup mengagetkan dilontarkan Fahmi.

“Bagaimana jika tidak?”, yang ditanya justru menjawab dengan pertanyaan.

Fahmi terdiam mendengar jawaban dari wanita yang baru ia nikahi 2 hari yang lalu. Kedua anak manusia itu  masih memandang jauh ke arah yang sama, ke arah bintang-bintang yang cantik gemerlapan dengan sinar terangnya, terdiam  sejenak dan mengambil nafas panjang.

“Bagaimana jika tidak? Bagaimana jika ternyata aku belum jatuh cinta padamu?” Zalfa menegaskan pertanyaannya dengan mata beningnya yang menyala  menatap laki-laki disampingnya yang terlihat serius. 

Fahmi bingung, apakah dia harus menjawab pertanyaan itu.  Jika ya, dia pun tidak tahu apa jawabannya. Maka, dia hanya tersenyum, menahan gemuruh hatinya agar jangan sampai menjadi halilintar yang menyambar bahagianya malam ini.

“Aku harus mencintaimu, itu yang kutahu. Bahwa aku harus menjadi pendampingmu yang setia, berbakti kepadamu, begitu Tuhan memerintahkanku. Maka sejak aku mengiyakanmu, sejak itu aku memutuskan untuk mencintaimu” , ucap Zalfa.

Tangannya sangat dingin, mengenggam lembut tangan suaminya.

“Tak usah kau risau. Selama aku masih ingat cinta Tuhanku, aku akan bahagia insyaAllah. Dan aku akan terus berusaha menepati janjiku untuk mencintai suamiku,” sambung Zalfa.

Mereka seakan tenggelam dalam  keheningan itu. Lalu ada kilatan bening di matanya yang masih menatap Fahmi.

“Maka berjanjilah, untuk menjadi penjaga ketaatanku pada-Nya. Agar aku selalu mencintaimu…dengan cinta-Nya…”  Zalfa melanjutkan kalimatnya. Fahmi tersenyum, seperti ada angin sejuk yang membawa ketentraman di hatinya. Dia usap butiran bening di wajah istrinya.

Malam memang semakin gelap. Tapi serasa tak habis cahaya yang terangnya membuat hati mereka  merasa tenteram.






Selasa, 21 Januari 2014

Magetan, 22-01-2014

Ingin  sedikit menulis di tengah-tengah sedikit kejenuhan setelah berlama-lama di dalam rumah dalam waktu liburan akhir semester gasal ^^

The first time merasakan yang namanya dibius,langsung sampai 4 kali dan dijahit pada anggota tubuh, bagian kaki. Hanya sakit saat dibius, dijahitnya gak kerasa (yaiyalah efek suntikan bius :D). Disela-selah proses itu, para dokter yang menangani suka ngajak cerita juga. Tentang kuliah dll. "Rumahnya mana mbak?", Tanya dokter. "Takeran", jawabku. "O..takeran...itu kan ada sekolahan yang terkenal selalu kekeringan ya..." sambung dokter yang lain. "Mana ya, gak ada tu (sembari berpikir)" jawabku. " Lha itu "MIN TAKERAN" tuturnya. Para dokter yang lain ketawa begitu juga denganku. Hadeh dokter ini bisa-bisanya. hm,,,MINTA KERAN. Dan selama proses itu mereka saling bercerita, terkadang ngajak ngobrol yang bisa membuatku tertawa kecil :D Jadi berpikir, jadi dokter memang harus bisa menghibur pasien ya disela-sela sakitnya. Setelah selesai dijahit masih terasa biasa, efek biusnya masih terasa.  Kata dokter pulihnya sekitar 2 minggu dan perlu untuk kontrol lagi ke RS.

Setelah beberapa jam kemudian baru kerasa lagi sakitnya, efek biusnya udah hilang. Sakitnya efek jahitan mungkin. Kalo sedikit lebay bisa dibilang "sakit buuaangeet".  Susah juga buat jalan. Meskiun rasanya sakit banget dalam waktu yang lumayan lama, ini masih sakit ringan kan. Jadi berpikir gimana rasanya malah kalo habis melahirkan? tentu sakitnya berlipat-lipat dari ini dalam waktu yang lebih lama. Luar biasa sekali perjuangan seorang ibu :)  Lha wong ini beberapa jahitan di kaki aja sakitnya lumayan, dan butuh pemulihan 2 minggu. Belum seberapa, Semangat !!!^^

Sedikit ingin bercerita,,, Bahwa sakit itu menyehatkan syukur. Terkadang baru terasa betapa berharganya sehat ketika sakit#Banyak bersyukur. Sakit itu menguji kesabaran, seberapa kuat manusia bisa bertahan dengan tetap bertawakal :) Toh ini belum seberapa...Baru berapa lama sih sakit? Kalo dibandingkan nikmat sehat yang Allah berikan selama ini belum seberapa. Jadi ingat nabi Ayyub yang diuji sakit bertahun-tahun bahkan sampai dijauhi sanak famili dan tetangganya, namun masih bisa berkata "Aku telah hidup selama 70 tahun dalam keadaan sehat, dan Allah baru mengujiku dalam keadaan sakit selama 7 tahun. Ketahuilah, itu amat sedikit dibandingkan masa 70 tahun" Masyaallah, senantiasa penuh syukur, tetap sabar dan ikhlas. 


ini ada tulisan kerennya Ust. Salim A.Fillah tentang sakit ^^

Sakit adalah bagian dari musibah yang telah Allah ukur kadarnya untuk dihadiahkan pada hamba-hamba terpilih yang mampu menanganinya. Sakit, sebagaimanapun tiap ujian, bukan menguji kemampuan sebab telah ditakar sesuai daya tahan. Ia menguji kemauan memberi makna. Maka dia yang mampu memberi makna terbaik bagi sakit, kemuliannya diangkat dan membuat para malaikat yang selalu sehat itu takjub.

Sakit itu Zikrillah. Mereka yang menderitanya akan lebih sering dan syahdu menyebut Asma Allah dibanding ketika dalam sehatnya. Sakit itu Istighfar. Mereka yang disapanya lebih muda teringat dosa-dosa lama, mengakuinya, dan bertaubat memohon ampun. Mereka yang parah dicengkamnya pasti dituntun untuk berkalimat thayyibat, menegaskan-Nya dalam lisan dan rasa.

Sakit itu Muhasabah. Dia yang sakit punya lebih banyak waktu untuk merenung diri dalam sepi, menghitung-hitung bekal kembali. Dia yang sakit tak boleh menyerah kalah; diwajibkan untuk terus berikhtiar, berjuang bagi kesembuhannya. Sakit itu Ilmu. Dalam menjalani pemeriksaan, konsultasi ke dokter, dirawat, dan berobat bertambahlah pengetahuan tentang tubuhnya.

Sakit itu nasihat. Yang sakit ingatkan si sehat untuk jaga diri. Yang sehat hibur si penderita agar bersabar. Allah cinta keduanya. Sakit itu silaturahim. Yang jarang datang disaat bersangkutan sehat wal afiat, tiba-tiba menjenguk dengan senyum dan rindu mesra. Sakit itu dijamin sabarnya; sabar tetap beribadah, sabar tak bermaksiat, sabar dalam tahan derita, sabar menunda capaian.

Sakit itu gugur dosa. Barang haram terselip tubuh dilarutkan di dunia, anggota badan yang mungkin berdosa dinyerikan dan dicuci-Nya. Sakit itu mustajab do’anya. Sakit itu adalah salah satu keadaan yang menyusahkan syaitan; diajak maksiat tak mampu, tak mau, dosa lalu disesali lalu diampuni. Sakit itu membuat sedikit teratawa dan banyak menangis; satu perilaku keinsyafan yang disukai Nabi dan makhluk-makhluk langit.

Sakit itu memperbaiki akhlak; kesombongan terkikis, sifat tamak dipaksa tunduk, pribadi dibiasakan santun, lembut dan tawadhu. Sakit membuat kita lebih serius mengingat dan mempersiapkan kematian. Dia yang merasa dekat mau menghargai waktunya dengan baik. Semoga Allah tolong kita menjadi hamba penuh syukur di segala keadaan.

Rabu, 01 Januari 2014

2 Januari

Hari ini berjalan dengan rutinitas seperti biasa. Hanya saja ada sedikit yang berbeda. Oh ya..hari ini, 2 Januari 2014. Miladku,ulang tahun tanggal lahirku. Memang bukan hal yang harus  diperingati atau dirayakan , tapi setidaknya mengingatnya adalah hal bermakna buatku. Sebuah kenikmatan dan kesyukuran yang luar biasa. 

Bagaimana tidak, 21 tahun yang lalu adalah saat dimana Allah mengirimku ke dunia. Seorang wanita telah mempunyai 1 anak laki-laki berusia 8 tahun dan 1 anak perempuan berusia 5 tahun, kala itu, sekitar pukul 21.00 berusaha keras melahirkan anak ketiganya secara normal. Membayangkan kala itu peluh membasahi kening dan tubuhnya, rasa sakit yang sebisa mungkin ditahan, demi mengumpulkan segenap tenaga untuk melahirkan anaknya, dengan berjuta harapan segera melihat buah hati tercinta. Yang ternyata, perempuan. Ya itulah aku.

Seorang laki-laki yang kemudian kuppanggil bapak mengumandangkan adzan di ruang bersalin RS Dr.Soedono Madiun. Beliau juga yang bersusah payah mengantar, menemani, dan menjaga aku dan ibuk di rumah sakit. Bahkan saat kejadian ada kebakaran tabung oksigen beliau yang melarikanku keluar untuk menyelamatkanku. Mulai saat itu, Allah menjadikanku anaknya, amanah untuk mereka. Robbighfirliy waliwalidaiyya warhamhumaa kamaa robbayaniy shoghiiroo. 

Bagaimana aku tidak mensyukuri tanggal ini, tanggal dimana Allah masih mengijinkan aku hidup di dunia ini, memberiku nikmat  dan kesempatan menjadi hambaNYA. 21 tahun ,Allah masih mempercayakan jatah usia ini padaku. dan tentu saja kesyukuran (terimakasih) mendalam kepada bapak ibukku. Firman Allah, “Anisykurliy waliwalidaik… "....bersyukurlah kepadaKU dan kepada dua orang ibu bapakmu” (QS. Lukman: 14)
Di sisi lain perlu direnungkan,selama ini sudah berapa banyak salah dan khilaf yang dilakukan? Sedangkan jatah hidup semakin berkurang#Banyak istighfar.Mungkin ada baiknya,momen milad tak identik dengan perayaan,tapi muhasabah. Memang bapak dan ibukku tidak pernah membiasakan dalam perayaan hari ulang tahun anak-anaknya. Bahkan entah ingat atau tidak, sepertinya tidak pernah memberi ucapan :D Tapi aku percaya ,namaku selalu ada dalam untaian do'a-do'a indah mereka^^

Berhubung ini awal tahun juga, Selamat berusaha mewujudkan mimpi-mimpimu di tahun 2014^^ Be Better, Semangat ^o^.




Rabu, 27 November 2013

SURABAYA MALAM

Menikmati suasana Surabaya malam yang menawan dari puncak Apartmen Kertajaya



Minggu, 06 Oktober 2013

Waktu yang ditunggu itu ternyata tidak tepat


Dejavu! Seketika melayang ingatannya pada masa beberapa tahun lalu. Entah kenapa Zaniya tidak lupa. Saat dalam candanya ia berucap pada laki-laki itu. “Sepertinya memang hanya kamu teman dekatku yang tidak jatuh hati padaku. Hahaha.”

Diam. Tak ada jawaban. Pun tak ada lanjutan celotehan canda gadis itu. Dia menunggu respon temannya. Apa aku salah bicara ya, pikirnya.
Apa aku pernah bilang tidak?”
Deg! Ada degub lain di jantung hati Zaniya. Cukuplah kalimat terakhir teman dekatnya itu menyalakan logika dan asosiasinya. Cukup. Tidak perlu dilanjutkan memang. Dia tidak ingin mendapat kesimpulan apa-apa meski sebenarnya otak dan hatinya seolah mendapat pembenaran atas rasa yang selama ini ia sangka, bahwa laki-laki itu menyukainya, sejak lama. Toh saat itu bukan hal yang penting dan perlu untuk mengetahui benar tidaknya laki-laki itu mencintainya.
Sekarang ia mendengar jawaban yang sama dari sosok yang sama.
Kenapa kau tidak bertanya dulu padaku, Zaniya?” ada nada terkejut dalam intonasi lelaki itu. Tajam matanya menatap Zaniya, seolah menegaskan suatu ketidaksetujuan.
Untuk apa bertanya dulu padamu Azril? Apa harus ada ijin darimu untuk aku menerima dia atau tidak?” Ganti Zaniya yang meninggi. Hening beberapa detik. Sementara pikiran mereka masing-masing menerka apa kelanjutan percakapan mereka.
Apa kau tahu aku mencintaimu?” tampak kalimat itu berat untuk diungkapkan. Seberat desakan kuat yang tiba-tiba menyesakkan dada Zaniya selepas mendengar kalimat barusan.
Tidak, kan?” sekuat tenaga Zaniya menahan diri untuk tak menangis. Ia tahu benar apa yang sedang terjadi sekarang. Pertempuran batin, ia dengan dirinya sendiri. Untuk melanjutkan pembicaraan ini atau tidak. Hening sejenak.
Apa aku pernah bilang tidak?” Laki-laki itu, matanya berkaca-kaca. Jelas sudah suaranya bergetar. Kepalanya merunduk mencari celah untuk menatap mata Zaniya. Yang ditatap tak henti menunduk. Sepertinya tanah tercover rumput hijau di bawah kakinya adalah hal paling menarik yang menyita perhatiannya. Tak hendak menoleh ke arah lelaki yang menjajarinya duduk di bangku taman itu. Pikirannya masih terngiang kalimat Azril barusan. Dejavu!
Zaniya, kenapa baru sekarang kau menyinggung tentang ini? Setelah hari pernikahanmu tinggal satu bulan lagi.” nada bicara Azril mulai datar. Meski gemuruh rasa dalam hatinya belum juga mereda. Yang ada dalam ambang bayangannya sekarang hanya satu: dia akan kehilangan wanita yang selama ini diharapkannya. Bukan hal mudah memang untuk meredakan letupan rasa khawatir itu sekarang. Sama halnya bukan dalam waktu sebentar ia menyiapkan diri untuk mengatakan perasaannya pada Zaniya. Menyiapkan diri. Karena ia tahu, urusan dengan Zaniya bukan hanya butuh pernyataan, tapi juga bukti berupa tindakan yang bertanggung jawab: menikahinya. Dan memang itu pula yang selama ini masih disiapkan Azril, segala kesiapan untuk menikahi Zaniya. Itu pula yang membuatnya menunda untuk mengungkapkan perasaannya pada Zaniya. Tanpa ia tahu sebelumnya bahwa penundaan itu membawanya pada suasana sore ini.
Azril.” Penuh penekanan, meski suaranya tak nyaring. Bukan karena khawatir suaranya didengar orang-orang yang lalu lalang di taman kota itu, tapi lebih karena menahan gemuruh perasaannya sendiri. Zaniya menatap lelaki yang duduk satu meter di sampingnya. Menemukan tatapan Azril yang meluluhkan. Mata Zaniya sendiri berkaca-kaca. “Apa pernah kau bilang padaku? Apa pernah kau memintaku? Apa pernah sekalipun kau menyinggung perasaanmu padaku atau perasaanku padamu?” Mengambil nafas dengan berat seolah oksigen di taman hijau sejuk itu hanya tersedia dalam jumlah terbatas. Zaniya melanjutkan klaimnya. “Kau memang tidak pernah mengatakan tidak. Tapi tak ada juga kata iya darimu. Kau hanya berani bersembunyi. Dan sekarang apa salahku kalau aku sudah memutuskan dengannya?” Menetes akhirnya, bulir bening di mata Zaniya. Sembari ia terus berpikir, apa benar ia harus menangisi ini. Bertahun-tahun ia berhasil menahan perasaannya dan sekarang justru pada detik-detik menjelang terlaksananya keputusan besarnya, ia menangisi perasaan itu.
Aku masih menyimpannya.” Sekarang ganti Azril yang tak mampu lagi menatap wanita cantik di sebelahnya. Berusaha setenang telaga di hadapannya. “Aku menunggu saat yang tepat…”
Sampai akhirnya kau lihat sendiri, saat yang tepat yang masih kau tunggu itu, ternyata tidaklah tepat.” Daun-daun kering berguguran dari rantingnya. Diterpa angin sore yang mulai mendinginkan alam. Bukan salahnya angin pasti, hanya karena begitulah memang Tuhan mencipta rencana-Nya, dengan segala sebab akibat yang bertautan, peristiwa itu menjadi bermakna. Dua anak manusia itu tidak sadar, dalam diamnya masing-masing, mereka tengah menatap dan memikirkan hal yang sama. Daun itu pun telah tertulis takdirnya kapan saatnya ia akan gugur. Masing-masing mereka bahkan telah faham teori itu. “Aku sudah memutuskan. Tidak ada yang akan berubah kecuali dengan rencana Tuhan.” Azril masih diam menatap danau tenang di hadapannya. “Aku menemuimu hanya untuk bertanya tentang Raffa, tentang masalah yang sedang dihadapinya sekarang, karena kuanggap kau teman yang banyak tau tentangnya. Hanya itu. Jika tidak ada jawaban untuk pertanyaanku, ya sudah. Tidak perlu ada banyak hal lain di luar keperluanku yang kudengar. Aku pulang, Azril.” Zaniya beranjak dari duduknya. Membenahi jilbab birunya yang berkibar diterpa angin.
Zaniya.” Azril menoleh ke arah Zaniya, hanya saja pandangannya terarah ke rumput hijau tanpa hendak menatap sosok yang akan pergi itu. Zaniya menghentikan langkah tanpa menoleh kembali. “Menikahlah dengannya. Dia temanku yang baik.” Seulas senyum mengiringi ucapannya, meski Zaniya tidak melihatnya.
Berlalu angin menerpa, mengiringi langkah Zaniya meninggalkan Azril sendirian di bangku taman. Sepi. Matahari hampir tenggelam. Mereka sama merasa, baru saja mengakhiri pertemuan sore itu dengan tepat.