Senin, 24 Maret 2014

Cinta


Ini tentang cinta. Kalo kata mbak Han, Cinta, Selalu hati yang memilih. Memang benar, tidak bisa membagi cinta dengan porsi yang sama. Tidak bisa menyamakan keberadaan semua orang pada sudut hati yang sama. Begitupun hati ini, tidak bisa bohong bahwa ia mencintai seorang dengan luapan yang lebih dari pada kepada seorang lainnya. Bagaimana ya, itu panggilan hati, magnet jiwa . Ada sesuatu yang sangat mengagumkan hati dan jiwa ini pada seseorang, tapi tidak pada yang lainnya. Kenapa? Karna dia memiliki pesona tersendiri yang membuatnya layak untuk dicintai. Seperti aku yang terpesona oleh kelembutan hatinya. itu membuatnya sangat wajar selalu menerima cinta yang mendalam dari semua orang.  Kami memang sedikit “berbeda”. Masalah pandangan dan ideologi. Namun tak membuat perbedaan itu sebagai jurang. Hubungan kami baik2 saja. Teman seaqidah seperjuangan. Bukankah dalam firman-Nya,sesungguhnya Islam lah yang diridhai Allah? Bukan harakah A,B,C atau D. Jadi tak pantaslah dengan mudah menjudge harakah lain sesat/salah apalagi sampai mengkafirkan selama masih seaqidah dan tidak keluar dari koridor  syari’at. 

#Seorang teman yang biasa memangilku “Af”, ketika teman2 yg lain biasanya memanggilku “Fid” atau “Da” . Jika harus jauh terpisah ruang dan masa, semoga selalu karena tulusnya doa yang menghubungkan hati-hati kita. Uhibbuki fillah : )

Minggu, 16 Maret 2014

Selalu Ada Hikmah


Orang-orang di sekitar kita, mereka seringkali membawa pesan-pesan kehidupan. Bunyinya macam-macam. Tapi yang jelas pesan-pesan itu seringkali mengingatkanku pada sebuah doa:

Ya Allah tolonglah aku untuk senantiasa mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan memperbaiki ibadahku kepada-Mu.”

Kadang pesan itu berisi kabar gembira juga kadang ancaman. Misalnya saat bertemu orang yang menjengkelkan dan membuat makan hati, pesan itu berbunyi: bersabarlah, pilih cara paling tepat untuk menyentuh hatinya. Pasti ada, pasti ada.

Saat ego tersulut untuk tak mau kalah mendebat pendapat seseorang yang kurang tepat, tapi di satu sisi menyadari masalahnya pasti akan panjang jika perbedaan diperdebatkan, seolah ada pesan mengingatkan pada kata-kata Rosulullah: siapa yang menghindari berdebat padahal ia bisa memenangkannya, Allah akan membangunkan rumah di surga untuknya (HR.Abu Dawud).

Saat menemui pengamen berisik yang nada nyanyiannya tak membuat nyaman di bus yang pengap di saat perut mulai mual, pesan itu berbunyi: think glad, think glad, everything will be good! Nikmati saja, toh keadaan tidak akan berubah sejuk dan damai dengan rasa sebal, tapi sugesti feeling kita lah yang bisa mengkondisikan suasana itu menjadi nyaman. Di keramaian bus itu juga yang selalu membuatku senang menikmati perjalanan, yaitu: memperhatikan para pedagang kecil yang menjajakan dagangannya dengan tak jemu-jemu, meski lelah dan peluh tampak sekali di wajahnya. Seakan mengisyaratkan pesan: beginilah mereka mengusahakan hidupnya, mungkin juga untuk menghidupi orang-orang tersayangnya. Jadilah aku malu jika dengan banyaknya kelapangan yang kupunya tak sampai sungguh-sungguh berjuang untuk hidupku dan untuk kehidupan banyak orang.

Saat bersama dalam lingkaran halaqoh yang menyenangkan, menatap wajah-wajah mereka selalu menjadi pesan untukku: jadilah lebih baik!

Dan ketika ternyata si penyampai amanah lagi-lagi membuatku tercengang, “Kenapa aku lagi? Bukankah dia lebih pantas? Bukankah dia lebih baik dan pas untuk berada di sini?”, pesan itu berbunyi: pasti ada pelajaran yang hendak Allah sampaikan dengan cara ini. Mungkin begini cara Sang Maha Penjaga menjagaku.

Pesan-pesan itu selalu saja mendamaikan gemuruh hati. Dia Yang Maha Bijaksana selalu saja membuatku belajar untuk juga bijaksana memaknai kehidupan.

 Karena di setiap cerita kehidupan selalu membawa pesan berharga, yang kemudian menjelaskan bahwa keberadaannya diciptakan oleh Sang Pencipta bukanlah kesia-siaan yang sepi akan makna. Sayangnya, tidak selalu pesan-pesan itu kita dengarkan dan rasakan pentingnya.

Sesungguhnya Kami telah menjelaskan ayat-ayat (Kami) kepada orang-orang yang mengambil pelajaran. Bagi mereka (disediakan) Darussalam (surga) pada sisi Tuhannya dan Dialah Pelindung mereka disebabkan amal-amal shaleh yang selalu mereka kerjakan.”
(QS.Al An’am: 126-127)

Alhamdulillah. Terimakasih kepada mereka yang menginspirasi.


Rabu, 26 Februari 2014

Mempercayai yang Terbaik

Adakalanya memang pertimbangan penempatan SDM dalam bidang-bidang dakwah ini merumitkan. Bagi para formatur atau penyusun kepengurusan dakwah terutama. Wajar saja, kadang kekhawatiran itu muncul karena adanya prediksi-prediksi tentang apa yang akan terjadi di kemudian hari. Yang perlu diingat, setajam apapun analisa kita, tetap saja masa depan adalah sebuah rahasia takdir yang tidak bisa kita tembus untuk mengetahuinya di masa sekarang. Maka, sesudah syuro memutuskan penempatan SDM pada bidang-bidangnya, ikhlaskan dan tsiqoh-lah, kemudian lihat bagaimana manajemen kita berjalan. Biarlah kemudian skenario Allah memberikan kita pelajaran, mungkin  di kemudian hari ada hal-hal yang perlu disesuaikan untuk kemashlahatan. Demikian, Rosulullah pun pernah mengalaminya.

Ketika Fathul Makkah. Tidak kurang-kurang Rosulullah memperhitungkan penempatan pasukan menjadi empat kelompok besar untuk masuk ke Makkah lewat empat jurusan, dengan mewanti-wanti pada para pemimpin kelompok untuk tidak melakukan kekerasan apapun, meskipun mereka semua disiapkan dengan persenjataan perang lengkap, kecuali dalam kondisi yang amat sangat mendesak. Nyatanya, dalam perjalanan masing-masing kelompok tersebut menuju Makkah dengan jalurnya masing-masing, salah satu kelompok Anshar yang dipimpin Sa’ad bin Ubadah hampir saja membuat ricuh. Sa’ad, sang komandan saking semangatnya, meneriakkan semangat perang pada pasukannya. Setelah menerima laporan kejadian yang menyimpang jauh dari rencana awal tersebut, segera Rosulullah mengutus Ali bin Abi Thalib untuk mengejar rombongan Anshar tersebut, sekaligus mengambil alih pasukan. Sa’ad bin Ubadah segera masuk menjadi anggota pasukan Anshar sedang kepemimpinan diambil alih oleh Ali. Rosulullah me-reshuffle komposisi pasukan.

Maka ketika syuro telah menetapkan kebijakan, tsiqoh-lah bahwa insya Allah itu adalah keputusan terbaik. Jika ternyata tidak tepat, biar Allah memberi kita pelajaran setelahnya, apa-apa yang mungkin perlu kita benahi. Wallahua’lam.

Terinspirasi: “Yang Tegar di Jalan Dakwah”

Selasa, 25 Februari 2014

Kebersamaan menuju Kebaikan

Saat awal berangkat, mengayun langkah ke arah tujuan, Allah berikan banyak kemudahan. Namun saat di perjalanan ujian itu pun datang. Ya, semoga ini ujian awal untuk menguji siapa yang masih ingin bertahan mengayun langkah selanjutnya ^^ Yakinlah bersama Allah semuanya kan baik-baik saja :) 

Bersama teman-teman Al Fatih
  
#Malang, 23 Februari 2014/23 Rabiul Tsani 1435 H

Minggu, 16 Februari 2014

Mbak yang Keren :')



Sore itu sembari menunggu kedatangan teman yang akan menjemputku di masjid ini seusai ashar. Kulihat seseorang yang berpakaian rapi, berjilbab dan tertutup sedang duduk disamping masjid. 
Kelihatannya ia sedang menunggu seseorang juga. Aku mencoba menegurnya dan duduk disampingnya, mengucapkan salam, sembari berkenalan.

Dan akhirnya pembicaraan sampai pula pada pertanyaan itu. “Anti sudah menikah?”.

“Belum ”, jawabku datar.

Kemudian wanita berjubah panjang (Akhwat) itu bertanya lagi “kenapa?”

Pertanyaan yang hanya bisa ku jawab dengan senyuman. Ingin kujawab karena masih belajar melanjutkan pendidikan, tapi rasanya itu bukan alasan.

“Mbak menunggu siapa?” aku mencoba bertanya.

“Menunggu suami” jawabnya pendek.

Aku melihat kesamping kirinya, sebuah tas laptop dan sebuah tas besar lagi yang tak bisa kutebak apa isinya. Dalam hati bertanya-tanya, dari mana mbak ini?Sepertinya wanita karir.Akhirnya kuberanikan juga untuk bertanya “Mbak kerja di mana?”Entah keyakinan apa yang membuatku demikian yakin jika mbak ini memang seorang wanita pekerja, padahal setahu ku, akhwat-akhwat seperti ini kebanyakan hanya mengabdi sebagai ibu rumah tangga.

“Alhamdulillah 2 jam yang lalu saya resmi tidak bekerja lagi” jawabnya dengan wajah yang aneh menurutku, wajah yang bersinar dengan ketulusan hati.

“Kenapa?” tanyaku lagi.

Dia hanya tersenyum dan menjawab “karena inilah PINTU AWAL kita wanita karir yang bisa membuat kita lebih hormat pada suami” jawabnya tegas.

Aku berfikir sejenak, apa hubungannya? Heran. Lagi-lagi dia hanya tersenyum.

Saudariku, boleh saya cerita sedikit? Dan saya berharap ini bisa menjadi pelajaran berharga buat kita para wanita yang Insya Allah hanya ingin didatangi oleh laki-laki yang baik-baik dan sholeh saja.

“Saya bekerja di kantor, mungkin tak perlu saya sebutkan nama kantornya. Gaji saya 7 juta/bulan. Suami saya bekerja sebagai penjual roti bakar di pagi hari dan es cendol di siang hari. Kami menikah baru 3 bulan, dan kemarinlah untuk pertama kalinya saya menangis karena merasa durhaka padanya. Kamu tahu kenapa ?

Waktu itu jam 7 malam, saya baru pulang dari kantor, hari ini lembur, biasanya sore jam 3 sudah pulang. Setibanya dirumah, mungkin hanya istirahat yang terlintas dibenak kami wanita karir. Ya, Saya akui saya sungguh capek sekali ukhty. Dan kebetulan saat itu suami juga bilang jika dia masuk angin dan kepalanya pusing.

Celakanya rasa pusing itu juga menyerang saya. Berbeda dengan saya, suami saya hanya minta diambilkan air putih untuk minum, tapi saya malah berkata, “abi, pusing nih, ambil sendirilah !!”.

Pusing membuat saya tertidur hingga lupa sholat isya. Jam 23.30 saya terbangun dan cepat-cepat sholat, Alhamdulillah pusing pun telah hilang. Beranjak dari sajadah, saya melihat suami saya tidur dengan pulasnya. Menuju ke dapur, saya liat semua piring sudah bersih tercuci. Siapa lagi yang bukan mencucinya kalo bukan suami saya? (kami memang berkomitmen untuk tidak memiliki khodimah)?Terlihat lagi semua baju kotor telah di cuci.Astagfirullah, kenapa abi mengerjakan semua ini? Bukankah abi juga pusing tadi malam? Saya segera masuk lagi ke kamar, berharap abi sadar dan mau menjelaskannya, tapi rasanya abi terlalu lelah, hingga tak sadar juga.

Rasa iba mulai memenuhi jiwa saya, saya pegang wajah suami saya itu, ya Allah panas sekali pipinya, keningnya, Masya Allah, abi demam, tinggi sekali panasnya. Saya teringat perkataan terakhir saya pada suami tadi. Hanya disuruh mengambilkan air putih saja saya membantahnya.Air mata ini menetes, air mata karena telah melupakan hak-hak suami saya.”

Subhanallah, aku melihat mbak ini cerita dengan semangatnya, membuat hati ini merinding. Dan kulihat juga ada tetesan air mata yang di usapnya.

“Kamu tahu berapa gaji suami saya? Sangat berbeda jauh dengan gaji saya. Sekitar 600-700 rb/bulan. Sepersepuluh dari gaji saya sebulan. Malam itu saya benar-benar merasa sangat durhaka pada suami saya. Dengan gaji yang saya miliki, saya merasa tak perlu meminta nafkah pada suami, meskipun suami selalu memberikan hasil jualannya itu pada saya dengan ikhlas dari lubuk hatinya.Setiap kali memberikan hasil jualannya, ia selalu berkata “Umi, ini ada titipan rezeki dari Allah. Di ambil ya. Buat keperluan kita. Dan tidak banyak jumlahnya, mudah-mudahan Umi ridho”, begitulah katanya.Saat itu saya baru merasakan dalamnya kata-kata itu. Betapa harta ini membuat saya sombong dan durhaka pada nafkah yang diberikan suami saya, dan saya yakin hampir tidak ada wanita karir yang selamat dari fitnah ini”

“Alhamdulillah saya sekarang memutuskan untuk berhenti bekerja, mudah-mudahan dengan jalan ini, saya lebih bisa menghargai nafkah yang diberikan suami. Wanita itu sering begitu susah jika tanpa harta, dan karena harta juga wanita sering lupa kodratnya”
Lanjutnya lagi, tak memberikan kesempatan bagiku untuk berbicara. “Beberapa hari yang lalu, saya berkunjung ke rumah orang tua, dan menceritakan niat saya ini. Saya sedih, karena orang tua, dan saudara- saudara saya justru tidak ada yang mendukung niat saya untuk berhenti berkerja. Sesuai dugaan saya, mereka malah membanding-bandingkan pekerjaan suami saya dengan yang lain.”

Aku masih terdiam, bisu mendengar keluh kesahnya. Masyaallah, apa aku bisa seperti dia? Menerima sosok pangeran apa adanya, bahkan rela meninggalkan pekerjaan.

“Kak, bukankah kita harus memikirkan masa depan ? Kita kerja juga kan untuk anak-anak kita kak. Biaya hidup sekarang ini mahal. Begitu banyak orang yang butuh pekerjaan. Nah kakak malah pengen berhenti kerja. Suami kakak pun penghasilannya kurang. Mending kalo suami kakak pengusaha kaya, bolehlah kita santai-santai aja di rumah. Salah kakak juga sih, kalo mau jadi ibu rumah tangga, seharusnya nikah sama yang kaya. Sama dokter muda itu yang berniat melamar kakak duluan sebelum sama yang ini. Tapi kakak lebih milih nikah sama orang yang belum jelas pekerjaannya. Dari 4 orang anak bapak, Cuma suami kakak yang tidak punya penghasilan tetap dan yang paling buat kami kesal, sepertinya suami kakak itu lebih suka hidup seperti ini, ditawarin kerja di bank oleh saudara sendiri yang ingin membantupun tak mau, sampai heran aku, apa maunya suami kakak itu”. Ceritanya kembali mengalir, menceritakan ucapan adik perempuannya saat dimintai pendapat.

“Anti tau, saya hanya bisa menangis saat itu. Saya menangis bukan karena apa yang dikatakan adik saya itu benar, Demi Allah bukan karena itu. Tapi saya menangis karena imam saya sudah DIPANDANG RENDAH olehnya. Bagaimana mungkin dia meremehkan setiap tetes keringat suami saya, padahal dengan tetesan keringat itu, Allah memandangnya mulia ?

Bagaimana mungkin dia menghina orang yang senantiasa membangunkan saya untuk sujud dimalam hari ?

Bagaimana mungkin dia menghina orang yang dengan kata-kata lembutnya selalu menenangkan hati saya ?

Bagaimana mungkin dia menghina orang yang berani datang pada orang tua saya untuk melamar saya, saat itu orang tersebut belum mempunyai pekerjaan tetap?

Bagaimana mungkin seseorang yang begitu saya muliakan, ternyata begitu rendah di hadapannya hanya karena sebuah pekerjaaan ?

Saya memutuskan berhenti bekerja, karena tak ingin melihat orang membanding-bandingkan gaji saya dengan gaji suami saya. Saya memutuskan berhenti bekerja juga untuk menghargai nafkah yang diberikan suami saya.

Saya juga memutuskan berhenti bekerja untuk memenuhi hak-hak suami saya. Saya berharap dengan begitu saya tak lagi membantah perintah suami saya. Mudah-mudahan saya juga ridho atas besarnya nafkah itu.

Saya bangga dengan pekerjaan suami saya ukhty, sangat bangga, bahkan begitu menghormati pekerjaannya, karena tak semua orang punya keberanian dengan pekerjaan seperti itu.

Disaat kebanyakan orang lebih memilih jadi pengangguran dari pada melakukan pekerjaan yang seperti itu. Tetapi suami saya, tak ada rasa malu baginya untuk menafkahi istri dengan nafkah yang halal. Itulah yang membuat saya begitu bangga pada suami saya.

Suatu saat jika anti mendapatkan suami seperti suami saya, anti tak perlu malu untuk menceritakannya pekerjaan suami anti pada orang lain. Bukan masalah pekerjaannya ukhty, tapi masalah halalnya, berkahnya, dan kita memohon pada Allah, semoga Allah menjauhkan suami kita dari rizki yang haram”. Ucapnya terakhir, sambil tersenyum manis padaku.

Dan dia mengambil tas laptopnya, bergegas ingin meninggalkanku. Kulihat dari kejauhan seorang laki-laki dengan menggunakan sepeda motor butut mendekat ke arah kami, wajahnya ditutupi kaca helm, meskipun tak ada niatku menatap mukanya. Sambil mengucapkan salam, wanita itu meninggalkanku. Wajah itu tenang sekali, wajah seorang istri yang begitu ridho.

Ya Allah….Hari ini aku dapat pelajaran yang berkesan dalam hidupku.Semoga pekerjaan, harta dan kekayaan tak pernah menghalangimu untuk tidak menerima pinangan dari laki-laki yang baik agamanya.

#Repost kisah inspiratif