Rabu, 27 November 2013

SURABAYA MALAM

Menikmati suasana Surabaya malam yang menawan dari puncak Apartmen Kertajaya



Minggu, 03 November 2013

Ikhlas^^



Berawal Bagai DEBU, Bergulir Ibarat ANGIN, Berakhir Laksana ANGKASA

Ada seseorang murid Imam Al-Bukhary sedang duduk bermajelis di masjid bersama para manusia. Mereka berguru padanya. Murid ini dengan kebiasaannya mengelus atau memegang jenggotnya sendiri. Lalu, ia mendapatkan semacam kotoran di jenggotnya dan melemparnya ke dasar masjid. Al-Bukhary melihat hal tersebut, yakni: kotoran kecil yang terlempar.

Majelis pun usai dan para murid berpaling pulang menuju kediaman masing-masing, kecuali murid yang satu ini. Ia mengamati sang guru dari suatu celah. Ketika tiada siapapun, beliau menoleh kanan kiri. Memastikan tiada siapapun di sekitarnya. Lalu beliau mengambil kotoran kecil itu dan memasukkannya ke kantong bajunya. Keluarlah kemudian beliau dari masjid dan memandang sekitar. Setelah yakin dan memastikan tiada siapapun melihat, beliau keluarkan kotoran tersebut dan membuangnya di luar masjid.

Perawi kisah kecil ini mengisahkan kisah, sedangkah AL-Bukhary tidak tahu dan tidak akan pernah tahu. Namun, justru Allah membuat manusia tahu akan sebuah cerminan keikhlasan sang imam dalam beramal di dalam ketidak tahuan beliau. Dan inilah salah satu 'akibat' dari keikhlasan, menyembunyikan amalan shalih dan mengesakan Allah dalam beramal.

Bukankah pernah kita membaca beberapa kisah tentang amalan sirr [tersembunyi] SYaikh Bin Baaz yang ketika hidupnya, Allah merahasiakannya!? Namun setelah wafat beliau, Allah membuka dan menyingkap rahasia-rahasia itu. Yang kemudian sebagian manusia yang membaca cerita-cerita itu, semakin besar kagum mereka akan beliau dan semakin banyak yang doakan kebaikan setelah wafatnya.

Boleh jadi seorang manusia dipuji selagi beramal baiknya. Khalayak ramai ketahui amalan terpujinya. Namun, hambar bernilai kemudian. Pujian itu hanya sementara. Ridha manusia terhadapnya rupanya hanya berdetik usia. Dan di akhir hayat atau setelahnya, segala yang terpuji terlupa. Dan segala kalimat pujian sirna. Apalah sebab?

Adakah kita yang pernah menyadari?
Bahwa jika kita berhasrat menjadi hebat agar terkenal semata, maka kita akan dikenal sementara, lalu dilupakan selamanya.
Bahwa jika kita berhasrat menjadi hebat agar dikenal amalnya oleh Allah, maka boleh jadi kita tidak dikenal sementara, namun suatu saat dikenang selamanya.

Lihat karya-karya ulama...semakin sering nama dan karya mereka disebut dan ditelaah, semakin terasa bahwa betapa tingginya keikhlasan mereka dahulu dan betapa kerasnya upaya mereka ketika itu.

Jika engkau benar-benar ikhlas:

Amalanmu berawal kecil bagai DEBU
Amalanmu bergulir tak tampak namun terasa ibarat ANGIN
Amalanmu berakhir di ketinggian dan kemuliaan laksana ANGKASA

Debu ketika orang lain tak memandangnya
Angin ketika orang lain tak memandang namun merasakannya
Angkasa ketika orang lain memandang dan melihat ketinggian jua kebesarannya

Minggu, 06 Oktober 2013

Waktu yang ditunggu itu ternyata tidak tepat


Dejavu! Seketika melayang ingatannya pada masa beberapa tahun lalu. Entah kenapa Zaniya tidak lupa. Saat dalam candanya ia berucap pada laki-laki itu. “Sepertinya memang hanya kamu teman dekatku yang tidak jatuh hati padaku. Hahaha.”

Diam. Tak ada jawaban. Pun tak ada lanjutan celotehan canda gadis itu. Dia menunggu respon temannya. Apa aku salah bicara ya, pikirnya.
“Apa aku pernah bilang tidak?”
Deg! Ada degub lain di jantung hati Zaniya. Cukuplah kalimat terakhir teman dekatnya itu menyalakan logika dan asosiasinya. Cukup. Tidak perlu dilanjutkan memang. Dia tidak ingin mendapat kesimpulan apa-apa meski sebenarnya otak dan hatinya seolah mendapat pembenaran atas rasa yang selama ini ia sangka, bahwa laki-laki itu menyukainya, sejak lama. Toh saat itu bukan hal yang penting dan perlu untuk mengetahui benar tidaknya laki-laki itu mencintainya.
Sekarang ia mendengar jawaban yang sama dari sosok yang sama.
“Kenapa kau tidak bertanya dulu padaku, Zaniya?” ada nada terkejut dalam intonasi lelaki itu. Tajam matanya menatap Zaniya, seolah menegaskan suatu ketidaksetujuan.
“Untuk apa bertanya dulu padamu Azril? Apa harus ada ijin darimu untuk aku menerima dia atau tidak?” Ganti Zaniya yang meninggi. Hening beberapa detik. Sementara pikiran mereka masing-masing menerka apa kelanjutan percakapan mereka.
“Apa kau tahu aku mencintaimu?” tampak kalimat itu berat untuk diungkapkan. Seberat desakan kuat yang tiba-tiba menyesakkan dada Zaniya selepas mendengar kalimat barusan.
“Tidak, kan?” sekuat tenaga Zaniya menahan diri untuk tak menangis. Ia tahu benar apa yang sedang terjadi sekarang. Pertempuran batin, ia dengan dirinya sendiri. Untuk melanjutkan pembicaraan ini atau tidak. Hening sejenak.
“Apa aku pernah bilang tidak?” Laki-laki itu, matanya berkaca-kaca. Jelas sudah suaranya bergetar. Kepalanya merunduk mencari celah untuk menatap mata Zaniya. Yang ditatap tak henti menunduk. Sepertinya tanah tercover rumput hijau di bawah kakinya adalah hal paling menarik yang menyita perhatiannya. Tak hendak menoleh ke arah lelaki yang menjajarinya duduk di bangku taman itu. Pikirannya masih terngiang kalimat Azril barusan. Dejavu!
“Zaniya, kenapa baru sekarang kau menyinggung tentang ini? Setelah hari pernikahanmu tinggal satu bulan lagi.” nada bicara Azril mulai datar. Meski gemuruh rasa dalam hatinya belum juga mereda. Yang ada dalam ambang bayangannya sekarang hanya satu: dia akan kehilangan wanita yang selama ini diharapkannya. Bukan hal mudah memang untuk meredakan letupan rasa khawatir itu sekarang. Sama halnya bukan dalam waktu sebentar ia menyiapkan diri untuk mengatakan perasaannya pada Zaniya. Menyiapkan diri. Karena ia tahu, urusan dengan Zaniya bukan hanya butuh pernyataan, tapi juga bukti berupa tindakan yang bertanggung jawab: menikahinya. Dan memang itu pula yang selama ini masih disiapkan Azril, segala kesiapan untuk menikahi Zaniya. Itu pula yang membuatnya menunda untuk mengungkapkan perasaannya pada Zaniya. Tanpa ia tahu sebelumnya bahwa penundaan itu membawanya pada suasana sore ini.
“Azril.” Penuh penekanan, meski suaranya tak nyaring. Bukan karena khawatir suaranya didengar orang-orang yang lalu lalang di taman kota itu, tapi lebih karena menahan gemuruh perasaannya sendiri. Zaniya menatap lelaki yang duduk satu meter di sampingnya. Menemukan tatapan Azril yang meluluhkan. Mata Zaniya sendiri berkaca-kaca. “Apa pernah kau bilang padaku? Apa pernah kau memintaku? Apa pernah sekalipun kau menyinggung perasaanmu padaku atau perasaanku padamu?” Mengambil nafas dengan berat seolah oksigen di taman hijau sejuk itu hanya tersedia dalam jumlah terbatas. Zaniya melanjutkan klaimnya. “Kau memang tidak pernah mengatakan tidak. Tapi tak ada juga kata iya darimu. Kau hanya berani bersembunyi. Dan sekarang apa salahku kalau aku sudah memutuskan dengannya?” Menetes akhirnya, bulir bening di mata Zaniya. Sembari ia terus berpikir, apa benar ia harus menangisi ini. Bertahun-tahun ia berhasil menahan perasaannya dan sekarang justru pada detik-detik menjelang terlaksananya keputusan besarnya, ia menangisi perasaan itu.
“Aku masih menyimpannya.” Sekarang ganti Azril yang tak mampu lagi menatap wanita cantik di sebelahnya. Berusaha setenang telaga di hadapannya. “Aku menunggu saat yang tepat…”
“Sampai akhirnya kau lihat sendiri, saat yang tepat yang masih kau tunggu itu, ternyata tidaklah tepat.” Daun-daun kering berguguran dari rantingnya. Diterpa angin sore yang mulai mendinginkan alam. Bukan salahnya angin pasti, hanya karena begitulah memang Tuhan mencipta rencana-Nya, dengan segala sebab akibat yang bertautan, peristiwa itu menjadi bermakna. Dua anak manusia itu tidak sadar, dalam diamnya masing-masing, mereka tengah menatap dan memikirkan hal yang sama. Daun itu pun telah tertulis takdirnya kapan saatnya ia akan gugur. Masing-masing mereka bahkan telah faham teori itu. “Aku sudah memutuskan. Tidak ada yang akan berubah kecuali dengan rencana Tuhan.” Azril masih diam menatap danau tenang di hadapannya. “Aku menemuimu hanya untuk bertanya tentang Raffa, tentang masalah yang sedang dihadapinya sekarang, karena kuanggap kau teman yang banyak tau tentangnya. Hanya itu. Jika tidak ada jawaban untuk pertanyaanku, ya sudah. Tidak perlu ada banyak hal lain di luar keperluanku yang kudengar. Aku pulang, Azril.” Zaniya beranjak dari duduknya. Membenahi jilbab birunya yang berkibar diterpa angin.
“Zaniya.” Azril menoleh ke arah Zaniya, hanya saja pandangannya terarah ke rumput hijau tanpa hendak menatap sosok yang akan pergi itu. Zaniya menghentikan langkah tanpa menoleh kembali. “Menikahlah dengannya. Dia temanku yang baik.” Seulas senyum mengiringi ucapannya, meski Zaniya tidak melihatnya.
Berlalu angin menerpa, mengiringi langkah Zaniya meninggalkan Azril sendirian di bangku taman. Sepi. Matahari hampir tenggelam. Mereka sama merasa, baru saja mengakhiri pertemuan sore itu dengan tepat.

Sabtu, 07 September 2013

Batalkan Miss World

*Kenapa Tere Liye MENOLAK Kontes Putri2an

Saya menolak kontes putri2an, dan menghimbau wanita manapun agar tidak ikut. Kenapa? Saya tidak akan membawa dalil agama dalam tulisan ini, saya akan gunakan saja logika, biar sama kuat. Toh, kalaupun saya membawa agama, frekuensi radionya sudah kadung berbeda.

Kenapa saya menolak kontes putri2an? Simpel, hei, tidakkah kalian telah membaca belasan novel Tere Liye, ratusan artikel, ribuan catatan, saya menulis tulisan yang hendak memuliakan wanita. Kecantikan tidak pernah dinilai dari sisi fisik. Saya menyanjung wanita agar mandiri, berpendidikan, percaya diri, dan semua karakter positif lainnya. Saya menulis kisah Laisa dalam novel/film Bidadari2 Surga, meski beribu laki-laki bahkan melihatnya saja ogah, karena Laisa pendek, gempal, rambutnya keriting, jalannya seperti robot, jari tangannya tertekuk, tapi sungguh dia adalah bidadari surga dengan seluruh pengorbanannya untuk adik-adiknya, untuk keluarganya. Hatinya yang cantik, maka cantik sudah sisanya. Saya meletakkan karakter wanita begitu terhormat, memuji mereka sebagai sosok yang amat penting, dalam banyak novel dan tulisan.

Saya mendidik pembaca tulisan saya agar menyingkirkan menilai orang lain dari sisi fisik. Mati2an menanamkan pemahaman baik tersebut, mulai dari tidak memandang rendah orang2 di sekitar kita yang tidak cantik, atau bahkan punya keterbatasan, hingga pemahaman bagaimana sebuah 'kecantikan' hakiki tersebut. Bertahun2 saya melakukannya, terus menerus, lantas orang2 dengan mudahnya kemudian menanamkan pemahaman sebaliknya lewat kontes putri2an, dengan gemerlap seolah hebatnya, padahal, sorry to say, kontes putri2an adalah produk dari industri artifisial. Itu bisnis. Mulai dari bisnis kosmetik, hingga positioning industri raksasa di belakangnya. Tidak pernah ada logika kontes putri2an itu memuliakan wanita.

Maka, apapun itu bentuknya, mulai dari Miss World, Miss Universe, hingga kontes Puteri Kerudung, puteri muslimah, sama saja. Tidak ada bedanya. Mau mereka bilang yang dinilai juga behaviour, brain, hei, lantas kenapa yang menjadi finalis hanya wanita2 cantik saja? Mau mereka bilang yang dinilai bisa mengaji, bisa ilmu agama, dsbgnya, kenapa yang ada di atas panggung hanya wanita2 cantik menurut definisi umum saja? Tidak perlulah membumbui hal-hal yang memang sejatinya kontes kecantikan. Semua kontes ini hanya urusan bisnis, sponsor, tontonan, rating, kapitalisme yang berkedok.

Silahkan jika ada yang punya pendapat berbeda. Itu hak semua orang. Sama berhaknya saya mengemukakan pernyataan ini. Tetapi jika kalian menyukai dunia tulisan Tere Liye, mengerti maksud tulisan2 tersebut, kalian akan paham, kita tidak boleh menilai orang lain dari fisiknya. Semua wanita terlahir cantik. Dan cantiklah semua wanita yang memiliki pemahaman: bahwa keunggulan fisiknya tidak akan diperlombakan, dipertontonkan, dan hal-hal yang jika dipikir lebih mendalam, justeru merendahkan diri sendiri.

Salah satu argumen peserta kontes putri2an macam Miss Universe itu adalah, mereka bisa menaikkan turis mancanegara, meningkatkan pariwisata.

Well yeah, mari kita lihat datanya, Kawan. Venezuela adalah negera yg memenangkan Miss Universe 2008 dan 2009, kalian tahu berapa pertumbuhan turis mancanegara mereka setelah wanita mereka menang? Minus 3%. Jepang yang memenangkan tahun 2007, pertumbuhan turisnya setelah menang, nol sekian persen saja.

Dan Kanada, menang tahun 2005. Berikut data kunjungan turis di negeri itu:
19.145.000 2004
18.771.000 2005
18.265.000 2006
17.935.000 2007
17.142.000 2008

Menakjubkan, sejak menang Miss Universe, kunjungan turis ke Kanada turun drastis dari 18juta orang tinggal 17 juta orang. Di mana letak dampak kontes putri2an itu?

Saya ingin sekali orang2 yang mendukung kontes putri2an, membaca data2 tersebut. Kita ini sedang diperdaya oleh industri artifisial. Jangan2 kita sedang menjadi alat bisnis saja. Dan sangat menyedihkan, jika mereka tidak tahu, kecil sekali, bahkan nihil saja kontribusi kontes2an ini bagi kemajuan pariwisata. Bagi pemilik televisi, rating, sponsor, dsbgnya sih iya, maju bisnisnya.

Tulisan ini hanya bagi yang mau memikirkan ulang banyak hal.

*repos, tulisan pertama sy tentang kontes ini sekitar 5-6 tahun silam. bertahun2 berlalu, semakin kacau situasinya.

Selasa, 03 September 2013

1 September

Sepertinya 1 September banyak terucap do'a :

"Barakallahu lakuma wa baraka 'alaikuma wa jama'a bainakuma fii khair"

dan Semoga menjadi keluarga yang Sakinah Mawadah wa Rahmah


1 September , dalam waktu yang sama 4 orang dekat menikah. 1 senior tekim, 1 senior fisika, 2 teman seangkatan fisika 2011. Tempatnya pun beda-beda, ada yang di Magetan, Kediri, Surabaya, dan Sidoarjo. Namun hanya bisa datang di salah satu yaitu di Kediri. Alhamdulillah perjalanan terjauh yang pernah kulewati. Kediri-Surabaya, nyetir 6 jam pulang pergi. Katanya sih Surabaya Kediri paling cuma 3,5 jam. E...ni Kedirinya yang perbatasan Blitar eg. Pake macet juga. Maklum 6 jam, padahal dah pol tu gasnya :D . Tentu saja selalu ada hikmah yang bisa diambil dari setiap perjalanan. Rasa capek serasa hilang setelah melihat banyak wajah bahagia saat itu. Bahagia ketika menyaksikan saudara kita bahagia, bersanding dengan orang yang telah Allah pilihkan untuknya^^ 


Ini masih bulan Syawal kan yaa...? Pantesan banyak orang nikah. Rasulullah kan menganjurkan untuk walimah di bulan Syawal ^^ 


Untuk yang telah menggenapkan separuh dien nya, selamat menempuh hidup baru dengan semangat baru bersama pendamping baru ^^ Semoga bahagia hingga menuju surga-Nya :)


Puisi sederhana :

I Love You Just the Way You are


Oh, tidak. Cukup jadilah dirimu sendiri, semaumu, semampumu…
Aku takkan memaksamu untuk menjadi sepertiku, memiliki seperti yang kupunya, melakukan sebagaimana yang aku bisa, melangkah dengan caraku, atau berperan seperti gayaku.
Oh, tidak. Aku takkan begitu.
Aku takkan menuntutmu menjadi seperti mereka. Meskipun mereka mengagumkan bagiku, tapi kau jauh lebih berharga dari siapapun mereka.
Oh, tidak. Tak ada sedih yang layak kau risaukan. Aku berjanji akan menyenangimu…
Tersenyumlah, dengan senyummu. Dan aku akan terus menyukainya…
Oh, ternyata aku punya satu nama sifat untukmu: cinta.
Oh, dan ternyata aku punya satu nama tempat yang ingin ku tuju bersamamu: surga.
Saat kau tak bisa melakukan hal sepertiku, pasti ada hal lain yang aku juga tidak bisa melakukannya sepertimu. Itulah kenapa kita harus bersama.

* Dapat cerita dari teman, tiba-tiba nemu ide nulis ini :D #HM

Rabu, 28 Agustus 2013

Tentang Syi'ah

Mirisnya ketika masih  ada saja orang Islam  yang membela Syi'ah. Sungguh aneh ketika ada orang yang menjadikan keterangan syiah sebagai referensi yang dihargai. Bagaimana mungkin, pendusta dan pembohong bisa menjadi rujukan dalam informasi. Terlebih di saat musim ketegangan antara kaum muslimin dan kelompok syiah.
Lebih menyedihkan lagi, ketika ada orang yang tertipu dan menganggap keterangan tokoh syiah lebih ilmiah. Anda boleh geleng kepala… bohong, dianggap ilmiah. Sayangnya, mereka yang tertipu dengan kebohongan syiah kebanyakan dari kalangan civitas akademik universitas-universitas ‘islam’ (dalam tanda kutip) di Indonesia. 
Sebagai contoh, anda bisa saksikan, bagaimana upaya pembelaan mereka terhadap kekejaman pemerintahan Basyar, yang membantai kaum muslimin Suriah.
Baca :

Rabu, 21 Agustus 2013

Aduh Sayang Sekali, Kenapa Ya?


Sering kali bahkan tanpa kita sadar kata-kata "Aah..", "Aduh", "Sayang sekali", "Kenapa yah?", "Koq aku dapet masalah terus?", dan kalimat-kalimat lainnya yang terkesan "Keluhan" keluar dari bibir kita. Kata-kata ringan tapi punya makna belum bisa menerima apa setulus hati apa yang sedang dialaminya, entah itu ujian dalam bentuk musibah besar atau yang kecil sekalipun.

Satu ketika seorang sahabat bertutur, "Kenapa yah koq akhir-akhir ini berbagai musibah menimpaku? Ditambah lagi teman-teman mulai kurang perhatian padaku dan aduh aku jadi tidak dipercaya. Ada yang bilang kurang perhatianlah, nggak adillah, inilah itulah. Aku jadi bingung. Padahal aku sudah berusaha berbuat apa yang aku bisa. Aku jadi sedih. Kenapa semua berakhir seperti ini?"

Seseorang yang mulanya berniatan mulia, ketika mendapat tekanan-tekanan dari sekelilingnya bisa saja mengeluarkan penuturan seperti di atas. Di satu sisi dia ikhlas menerima apa yang sedang dialaminya, tapi disisi lain ada bisikan-bisikan yang membuatnya menyesali keadaan.

Keluh kesah yang terpancar lebih disebabkan karena mengikuti dorongan hawa nafsu, tidak mampu menahan rasa pedih atau emosi batin, kurang bersyukur terhadap nikmat yang begitu banyak dibandingkan bencana yang baru menimpa, atau karena kelemahan iman terhadap qadha dan qadar, sehingga tidak memahami hikmah dibalik bencana tersebut.

Kenapa sih mesti ada musibah? Musibah itu adalah sarana ujian atas prestasi keimanan seseorang. Rasulullah SAW bersabda, "Orang-orang yang paling besar mendapat ujiannya adalah para nabi, kemudian para syuhada, kemudian orang-orang setingkat dengannya." Disamping itu, musibah merupakan sarana untuk mengukur kebenaran iman. Alloh menurunkan musibah agar kita benar-benar bisa mengukur apakah benar kita beriman atau tidak? atau bisa jadi musibah diturunkan sebagai azab atas kemaksiatan dan kekufuran agar kita menjadi jera. Bukankah diturunkannya azab di dunia lebih baik dari pada di akhirat kelak? Agar kita lebih dulu menyadari kesalahan dan dosa-dosa kita. Subhanalloh betapa cintanya Alloh pada orang-orang yang mendapat musibah dan berhasil memupuk kesabaran atas dirinya. Alloh berfirman dalam surat Ar-Rum:41, "Telah nampak kerusakan di darat dan di lautan disebabkan oleh perbuatan tangan manusia, supaya Alloh merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar."

Kunci utama dari pemecahan masalah ini adalah sabar, yaitu menahan diri dari keluh kesah, amarah, apalagi dari harapan mendapat belas kasihan dari orang lain. Rasulullah SAW bersabda, "Sabar itu tatkala menghadapi ujian musibah yang pertama." Karena pada saat-saat itulah Alloh menguji iman seseorang, apakah dia berhasil melawannya dengan mengembalikan segala urusannya pada Alloh dan memendam emosinya dalam-dalam, atau malah semakin larut dalam duka yang berkepanjangan hingga selalu merasa gelisah.

Apakah bersabar dengan memendam emosi dapat menyelesaikan masalah? Tentu saja belum. Setidaknya dengan memendam emosi, ada perasaan tenang di hati kita. Ketika perasaan tentram itu datang, akan ringanlah bagi kita untuk berpikir jernih. Ketika ujian kesabaran telah kita lewati, selanjutnya kita harus mencek dan ricek kembali apa hakikat dari musibah-musibah yang telah kita alami.

Mari kita telaah setiap permasalahan / musibah yang sedang kita hadapi, agar kita terbebas dari penyakit keluh kesah, dengan:
  • Menjauhi semua penyebab timbulnya penyakit keluh kesah.
  • Mempelajari akibatnya.
  • Memahami makna sabar dan seluruh manfaatnya.
  • Meyakini bahwa cobaan adalah takdir dari Alloh yang terbaik bagi kita, dan kelak akan terbukti hikmahnya.
  • Menahan emosi semaksimal mungkin sehingga tidak menimbulkan reaksi negatif terhadap tindakan fisik.
  • Jika masih ada rasa kesal, segera beranjak dari tempat duduk, ambil air wudhu dan baca istighfar sebanyak 3 kali.
  • Berdoa, "Ya Alloh, selamatkanlah aku dalam musibahku ini, dan semoga engkau menggantinya dengan sesatu yang lebih baik daripada ini."
  • Selalu bersyukur akan nikmat yang diterima.
Bagaimanapun musibah menuntun kita kejalan yang lebih baik dan lewat musibahlah Alloh mengabulkan do'a yang sering kita panjatkan, "Ya Alloh, tuntunlah kami ke jalan yang benar, jalan yang Engkau ridhoi." Agar kita tergolong orang-orang yang beruntung dikehidupan mendatang. Semoga kita bisa mengganti kata Aduh, Sayang Sekali, Kenapa Yah? dengan kata-kata yang lebih punya makna seperti "Masya Alloh", "Astaghfirullah", dan kata-kata lain yang lebih bisa menentramkan hati kita. Wallahu a'lam bishawab. (Qudwah, bahan bacaan: Penyakit Hati, Uwes Al-Qorni)



Referensi : kafemuslimah.com